Pranala.co.id (Ulasan) – Konversi kawasan dan lahan kehutanan menjadi pertanian marak terjadi. Hal itu, dikarenakan kebutuhan ekonomi masyarakat akan hasil konversi yang dilakukan. Karena tanaman pertanian umumnya, proses panen dilakukan dengan cepat.

tidak seperti tanaman jenis kehutanan yang butuh waktu bertahun-tahun untuk dapat dipanen. Hal itulah yang melandasi para petani lebih memilih tanaman pertanian dibanding tanaman kehutanan. Teknik penanaman yang dilakukan juga umumnya monokultur.

Teknik monokultur merupakan kegiatan penanaman dimana dalam suatu areal lahan jenis tanamannya hanya satu. Secara keuntungan hasil yang didapatkan dalam satu produk tanaman akan maksimal jika tak ada ancaman.

Akan tetapi, ketika ancaman datang kerugian seperti gagal panen, serangan hama tanaman, serta nilai jual turun di pasaran akan merugikan petani. Selain itu, teknik penanaman monokultur tersebut memiliki dampak terhadap lahan seperti :

Penurunan kualitas tanah

Hal tersebut dikarenakan interaksi antara tanaman pertanian yang di tanam secara monokultur berdampak terhadap penyerapan unsur hara yang berlebihan sehingga dapat menyebabkan kekurangan unsur hara pada tanah. Terlebih lagi beberapa tanaman ada yang berlebihan dalam menyerap dan menggunakan unsur hara tersebut.

Peningkatan erosi

Selain penurunan unsur hara pada tanah. Penanaman secara monokultur juga berpengaruh terhadap peningkatan erosi pada tanah disaat musim hujan. Hal itu disebabkan karena tutupan vegetasi atau strata pada lahan hanya satu jenis tanaman saja. Sehingga air yang turun akan berdampak terhadap daya hempasan ke tanah. Lambat laun batuan atau tanah akan mengalami erosi dan sedimentasi.

Daya penyimpanan air tanah akan berkurang.

Hal itu disebabkan karena jenis tanaman pertanian memiliki akar yang sangat pendek jika di bandingkan tanaman jenis kehutanan. Akar tersebut berpengaruh terhadap daya serap air tanah karena fungsi akar selain menyerap unsur hara esensial ia juga berfungsi untuk menyerap air dalam tanah.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut ada beberapa teknik yang bisa dilakukan oleh petani. Salah satu diantaranya yakni teknik agroforestry. Agroforestry merupakan kegiatan pengabungan tanaman kehutanan dan pertanian dalam satu hamparan lahan. Dalam kegiatan agroforestry ini memiliki model pola penanaman seperti, alley cropping, alternate rows, random mix, atau perpaduan ketiganya.

Interaksi antara tanaman pertanian dan kehutanan dalam teknik agroforestry umumnya menguntungkan. Hal itu dikarenanakan beberapa jenis tanaman kehutanan seperti “leguminose” mampu memperbaiki unsur hara yang di butuhkan oleh tanaman pertanian. Selain itu beberapa tanaman kehutanan memiliki akar yang mampu meningkatkan mikroorganisme di dalam tanah, sehingga berperan terhadap peningkatan bahan organik tanah dan kesuburan tanah.

Pola penanaman agroforestry juga dapat meminimalisir kerugian akibat gagal panen. Hal itu dikarenakan beberapa jenis tanaman kehutanan memiliki fungsi sebagai pengendali hama. Jadi, pada jenis tanaman pertanian yang rentan terhadap hama dapat diatasi secara alami dengan menanam tanaman kehutanan jenis tertentu sebagai pengendali hama. Selain itu juga ketika salah satu harga komoditi jatuh dipasaran maka bisa diatasi dengan komoditi yang lainnya.

Pemanfaatan lahan juga maksimal karena setiap bentangan lahan ditanami. baik jenis tanaman pohon, empot-empotan, kacang-kacangan, maupun buah-buahan. Sehingga tidak ada lagi lahan yang terlihat kosong.Hasil panennya juga lebih maksimal

Selain itu teknik agroforestry juga dapat memperbaiki kelestarian lingkungan dengan meningkatkan oksigen dan menyerap karbondioksida secara maksimal. Sehingga udara segar dan menyehatkan bisa dihasilkan melalui teknik ini.

Oleh karena itu, penerapan teknik agroforestry sebaiknya dilakukan oleh para petani mengingat bahwa selain memiliki keuntungan ekonomi juga memberikan keuntungan ekologis baik pada manusia dan alam sekitarnya.

 

Penulis : Sabaruddin B. S.Hut.,M.Hut
Dosen Konservasi Hutan, Universitas Nahdlatul Ulama Gorontalo