Pranala.co.id (Jakarta) – Tahun ini  Ramadhan amat berbeda, tanpa berada di masjid semua berada di rumah. Ada suatu pengalaman spiritual yang sangat berbeda suatu perjalanan yang amat sulit yang kita lewati di seluruh dunia. Demikian dikatakan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pada acara live streaming Ulama & Umara via YouTube, Selasa (9/6/2020).

“Kita di Jakarta sebagaimana kota-kota lain di Indonesia dan dunia merasakan dua krisis. Pertama krisis kesehatan, kedua krisis ekonomi yang punya implikasi yang cukup luas,” ujar Anies.

Karena wabah pandemi corona (Covid-19)   memaksa semua harus berada di rumah, papar Anies, ada 3.6 juta warga di Jakarta ketika semua harus berada di rumah, ternyata 2/3 atau 2.4 juta keluarga tidak bisa menjalani kehidupan normal jika mereka tidak dibantu oleh negara. Sementara 1/3 atau 1.2 juta tidak perlu dibantu.

Siapa yang perlu dibantu? Anies menjelaskan, yaitu yang tidak punya tabungan yang tidak dibantu yang punya tabungan. Jika harus berada di rumah maka yang tidak punya tabungan tidak bisa hidup mandiri.

“Artinya dalam dekade ke dekade pembangunan yang kita jalani belum memberikan manfaat keadilan bagi semua. Indikasinya sederhana ketika harus berada di rumah dua bulan tidak busa survive. Bukan soal yang lain-lain hanya di rumah saja. Hal Ini, harus ada koreksi bagi kita semua,” kata Anies.

Seharusnya, Anies melanjutkan, ketika kita bicara di rumah semua minimal dalam dua bulan bisa melewati secara bersama-sama. Namun ternyata tidak, dan itu kita alami di Jakarta. Menurutnya ada masalah keadilan yang cukup serius dan Republik ini didirikan karena keinginan untuk memberikan rasa keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Karena itu ketika berbicara Pancasila maka pesan akhir keadilan sosial. Tanpa keadilan sosial sulit mendapatkan persatuan. Persatuan itu buah dari kesetaraan, buah dari perasaan keadilan. Ini satu PR tersendiri. Mudah-mudahan ini menjadi refleksi bagi kita,” terangnya.

Bulan April yang lalu, Anies mengungkapkan, dirinya mendatangi Kebun Raya Ragunan. Kurang lebih 6 minggu lebih kebun binatang itu ditutup tidak ada manusia yang mengunjungi kecuali para pengurusnya. Apa yang terjadi? Anies menjelaskan, semua binatang bahagia di sana, tidak ada yang stres.

“Dulu tidak ada binatang yang berani mendekati pagar semua binatang selalu mendekati kandang. Bahkan unta pun tidak pernah bergulung gulung di pasir selalu semua menjaga jarak. Kera bintang buas lainnya semuanya dalam suasana stres. 6 minggu tidak didatangi manusia semua bahagia. Lalu dalam 3 bulan ini langit di Jakarta biru warnanya,” terang Anies.

Apa pesan dari tiga bulan ini? Bahwa kehadiran kita, menurut Anies, telah memberikan tekanan luar biasa bagi makhluk-makhluk lain yang ada disekitar kita. Kerusakan lingkungan yang luar biasa. Tapi kemaren kita rasakan kota Jakarta seperti inilah bila biru langitnya. Mendadak lingkungan yang bersih dan menjadi pengetahuan di dalam media online ini menjadi pengalaman kolektif 11 juta penduduk kota Jakarta.

Artinya selain kita mempunyai dua krisis kesehatan dan ekonomi namun disisi lain kita mendadak mempunyai pengalaman hidup yang bersih. Terpenting pengalaman ketiga adalah kita memaksa menggunakan  teknologi untuk melangsungkan hidup untuk berinteraksi yang tidak bisa dilangsungkan karena pertemuan fisik tidak diizinkan.

“Mendadak teknologi yang selama ini ada di genggaman kita menjadi teknologi yang dimanfaatkan. Pandemi ini mengajak kita untuk melompat memanfaatkan teknologi untuk segala macam bentuk interaksi. Disini kita menyaksikan pemanfaatan teknologi yang amat  sangat maju. Contohnya Ustadz Abdul Somad yang bisa memanfaatkan teknologi untuk menjangkau umat. Dan sekarang dengan adanya majelis-majelis ini bisa menjangkau lebih jauh berbagai pihak yang dulu sulit dijangkau sekarang busa dijangkau,” tukasnya.

Karena itu, lanjutnya, barangkali ini menjadi peluang bagaimana alumni timur tengah bisa menjangkau alumni-alumni lain melalui mekanisme seperti ini. Sekarang bagaimana umat Islam memanfaatkan perubahan-perubahan yang mungkin terjadi. Umat Islam sering bukan karena tidak mampu, sering tidak bisa mengantisipasi perubahan. Kegagalan bukan karena ketidakmampuan tapi tidak pandai membaca tanda-tanda perubahan. Hari ini didepan kita ditunjukkan tanda-tanda perubahan itu. Di depan kita ditunjukkan kesempatan itu

“Dan alhamdulillah kita semua yang sudah mendapatkan kesempatan pendidikan yang merupakan kemewahan bagi jutaan saudara saudara yang lain, perlu merenungkan peristiwa ini, perlu membicarakan peristiwa ini dan mengambil hikmahnya untuk kemudian kita antisipasi kedepan, jangan sampai perubahan yang terjadi gagal kita antisipasi. Hikmah tidak pernah datang kemaren hikmah selalu datang besok karena itu tugas kita mengantisipasi lalu mengambil hikmahnya lalu memberikan manfaatnya pada umat semuanya,” pungkasnya. (OTN)