Oleh : Nurhadi Taha

Direktur Eksekutif Taha institute

Di pemilu 2019 saya memberi beberapa Catatan dan Analogi tentang Figur dan Sosok Caleg yang hadir pada keharibaan kita dengan sebuah Judul 2019 Good people, Good Man, tampak Analogi ini menjadi pembeda, memberi magnet dan seleksi Alam pada setiap Calon Kontestan yang ada, itu terlihat di kala mereka terpilih dan di lantik sebagai Anggota Legislatif Terpilih.

” Good Man” manusia Baik tentu konsistensinya terukur pada personal kepribadiannya. Setiap manusia dalam mengapai sesuatu entah itu dari Gaya, tampilannya dan juga ekspetasinya dalam berkuasa di level kepemimpinan Eksekutif Maupun pada level Legislatif.

Orang Orang baik itu akan terlihat tidak sekedar karena momentum Tradisi Tahunan , pemilu dan pemilukada tetapi itu lahir dari karena kebiasaan, Gagasan , serta detak Nadinya sebagai Tokoh yang tulus untuk berbuat memajukan Gorontalo .

Tentu Kita harus punya Varian , ukuran baik soal Capaian Gorontalo di masa lalu dan saat ini , di Era saat ini kita Miskin terbawah ke 4 di Indonesia. Padahal Gorontalo di era Fadel dan Gusnar, sudah swasembada pangan, Gorontalo di kenal dengan Provinsi Agropolitan karena Ekspor jagung yang mendunia saat ini kita di perkenalkan dengan “GORR ” yang itu semuanya Mega Proyek yang berbandrol Miliaraan pertanyaannya Agropolitan Untuk Siapa Dan GORR untuk Siapa ?

Miskin pada urutan Ke 4 saat ini menurut Data BPS adalah Gambaran Gorontalo Kekinian Seolah Manajemen Aparatur minim Dan Tata Kelola Sumber Daya Tak memadai padahal Pada posisi Gorontalo Di Era Fadel Dan Gusnar telah banyak memberikan Kepercayaan Pada Gorontalo dan Brand Image Soal Kegorontaloan mendunia , Bahkan Di Mana- Mana Gorontalo jadi Provinsi yang di perbincangkan soal Prestasinya dan Konsepnya dalam Membangun dan Memajukan Bahkan menjadi Contoh bagi Daerah lainnya di Indonesia.

Di sisi lainnya ada beberapa Tokoh Gorontalo yang niat tulus membangun mereka di Bunuh, bahkan di kerjain secara habis – habisan , hingga serangan itupun bertubi – tubi secara membabi Buta, tetapi begitulah Keluhuran budi dari Tokoh yang niatnya tulus membangun

Mereka Tetap selalu ingat dan ingin memajukan Gorontalo seperti Rachmat Gobel yang pada pileg di Fitnah sani sini, begitupun Fadel Muhamad, Mantan Gubernur Gorontalo di serang dengan berbagai Isu kedaerahan pada Kegorontaloan begitu kental dan terbukti dalam memajukan Gorontalo.

Tak Heran bila Kedua Tokoh ini mereka di Berkahi oleh Leluhur, mereka di percaya menjadi pimpinan di DPR RI, Rachmat Gobel sebagai Wakil Ketua dan Begitupun Fadel Muhamad di percaya sebagai Wakil Ketua MPR RI.

Saya bangga pada kedua Tokoh ini dan sangat mengapresiasi langkah – langkah mereka dalam mempertemukan tokoh – tokoh gorontalo, dalam beberapa presepsi ke dua tokoh Gorontalo tersebut mencerminkan Bahwa RG dan FM tahu titik krusial itu ada di Kabupaten/Kota. Mereka yang punya program. Namun sayang, tidak ada pemimpin lokal yang mampu mendrive ini.

Kepala – kepala daerah juga tahu, mana karakter elit politik yang bisa dipercaya, mana yang hanya mau kepentingan sesaat dan kepentingan dinasti. Sehingga mereka lebih memilih bekerja sama dengan RG yg punya niat baik bagi Gorontalo.

RG adalah sosok yang sudah selesai dengan ekonominya. Ia termasuk golongan orang yang kaya akan harta. Tak perlu harus berebutan dan memanipulasi publik untuk proyek jalan dan jembatan. Apalagi bangun pom bensin

*)Penulis salah satu penggiat literasi di Gorontalo