Pranala.co.id (Ulasan) – Dalam membangun karir dan memanifestasikan semangatnya membangun Gorontalo, Nelson Pomalingo, nampaknya terilhami oleh dua tokoh besar di Indonesia, yakni Ki Hajar Dewantara dengan Taman Siswanya dan mendiang almarhum BJ Habibie dengan konsepnya yang terkenal, gerakan membangun Insan Cendekia. Yakni manusia Indonesia yang unggul dan berdaya saing yang menguasai Ilm Pengetahuan-Teknlogi, Iman dan takwa (IPTEK dan IMTAK).

Salah satu karya almarhum BJ Habibie untuk Indonesia yang hingga saat ini masih dirasakan, semoga menjadi amal jariyah bagi Beliau, adalah menggagas berdirinya SMA Unggulan Insan Cendekia yang kini menjadi MAN Insan Cendekia yang terkenal dengan kualitas pembelajarannya yang hanya ada 2 di Indonesia, yakni di Gorontalo dan di Bogor Jawa Barat.

Tidak heran, jika Nelson Pomalingo sejak tahun 2012, terinspirasi mendirikan Yayasan Taman Cendekia, yakni sebuah nama yang terilhami oleh semangat “Taman Siswa” yang didirikan Ki Hajar Dewantara dan “Cendekia” yang terinspirasi oleh gerakan BJ Habibie melahirkan Perguruan Insan Cendekia melalui penguasaan IPTEK dan IMTAK.

Dari Yayasan Taman Cendekia yang didirikannya itulah, Nelson kemudian menggagas berdirinya Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) yang pertama di Gorontalo dan bahkan di Indonesia, serta mendirikan SMA Olahraga Taman Cendekia dan saat ini tengah merintis berdirinya Institut Pertanian Gorontalo Taman Cendekia.

Selain itu, konsep pemikiran BJ Habibie yang terkenal dengan istilah “Berawal di akhir, berakhir di awal” di era tahun 1980-an, juga nampaknya menjadi sumber inspirasi dan referensi yang terus mengilhami Nelson Pomalingo untuk berkiprah bagi Gorontalo.

Tahun 1999 misalnya, saat Nelson dan kawan-kawan hendak memperjuangkan terbentuknya Provinsi Gorontalo, salah satu tantangan yang dihadapinya ketika itu, adalah pernyataan yang bernada pesimis dari sebagian kecil kalangan, bahwa Gorontalo belum siap menjadi provinsi, karena SDM dan potensi Gorontalo yang masih belum memadai.

Atas pesimisme itu, Nelson menjawab, Yang penting menjadi Provinsi dulu, soal SDM, soal pengembangan potensi itu belakangan dipikirkan bersama. Bagi Nelson yang utama itu wadahnya dulu, soal apa dan siapa yang hendak mengisinya, itu persoalan belakangan. Yang terpenting lagi menurut Nelson, Gorontalo harus memanfaatkan momentum euforia reformasi dengan sebaik-baiknya untuk melepaskan diri dari Sulawesi Utara. Kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi? Itu yang selalu disampaikan Nelson ketika itu di mana-mana. Pemikiran Nelson seperti itu, lagi-lagi terilhami oleh konsep “berawal diakhir, berakhir di awal”

Demikian pula saat perubahan status IKIP Negeri Gorontalo menjadi Universitas. Nelson sebagai rektor berhasil melawan kebijakan Kementerian Pendidikan Nasional yang hendak mempertahankan IKIP Gorontalo dan IKIP Negeri Bali di Indonesia. Namun Nelson bersikukuh, hingga rela antri berhari-hari di kediaman Presiden Megawati Soekarno Putri. Bersyukur ketika itu, Presiden memiliki agenda kunjungan kerja ke Manado, maka momentum itulah yang dimanfaatkan Nelson dan Gubernur Fadel Muhamamd hingga Presiden Megawati dijadwalkan singgah sebentar di Gorontalo untuk meresmikan beralihnya status IKIP Gorontalo menjadi Universitas. Akhirnya, UNG diresmikan pada tahun 2004, kendati saat diresmikan ketika itu, belum mengantongi SK Presiden. Bagi Nelson, lagi-lagi yang penting diresmikan dulu, soal SK belakangan”. Strategi itu juga bagian dari Berawal di akhir, berakhir di awal.

Yang menarik, saat menajdi Bupati Gorontalo, Nelson sangat paham bahwa Kota Limboto sebagai ibukota Kab. Gorontalo, ketika malam hari tiba, bak kota mati, tidak ada keramaian, pedagang kaki lima dan kuliner yang biasa mangkal di Taman Menara tidak bergairah dibuatnya. Di satu sisi, sebagai daerah adat yang menjunjung tinggi adat dan budaya leluhur, selama ini Gorontalo tidak memiliki simbol sebagai ikon kota budaya, maka Nelson mengagas pembangunan Taman Budaya serta mendesain bagaimana Limboto memiliki magnet tersendiri di kalangan masyarakat Gorontalo. Itu juga merupakan bagian dari berawal di akhir, berakhir di awal.

Dibalik itu, Nelson sadar dan mengetahui persis bahwa masih banyak jalan alternatif di seputaran Kota Limboto yang rusak dan berlubang, namun yang terpenting bagi Nelson, bangun dulu wadah yang menjadi magnet dan daya tarik, soal jalan itu belakangan di pikirkan. Logika berpikir Nelson sebagai Bupati sebenarnya bisa dimaklumi, batu karang, hutan belukar dan ganasnya alam akan diterjang demi emas dan permata.

Atau Ibarat orang, bangun rumah yang layak untuk bernaung terlebih dahulu, soal jalan menuju rumah belakangan dipikirkan. Artinya, memilih jalan yang mulus tapi tinggal di gubuk atau memiliki rumah yang layak kendati harus melalui jalan setapak yang rusak. Naluri manusia cerdas akan memilih yang kedua. Bagi Nelson, cipatakan dulu “nilai tambah” untuk Limboto, setelah memiliki nilai tambah, otomatis yang lainnya akan mengikuti. Itulah yang disebut bertahap dan berkesinambungan. Strategi membangun seperti ini, juga menjadi bagian dari berawal di kahir, berakhir di awal.

Model kepemimpinan yang tercermin dari Pemerintahan Nelson selama ini dengan demikian, adalah model kepemimpinan yang membangun, bukan kepemimpinan yang semata-mata sekadar “menyenangkan” hati rakyat. Kepemimpinan model seperti ini memang harus siap dikritik, demi sebuah kebaikan. Toh juga kesadaran yang mengkritik akan bangkit suatu ketika nanti.

Yang menarik terkait pembangunan jalan, Bupati Nelson lebih memprioritaskan pembangunan dan perbaikan jalan ke akses-akses pertanian dan jalan-jalan yang sejak lama tidak tersentuh oleh kebijakan. Buktinya, selama 4 tahun lebih, Nelson membangun dan memperbaiki hampir 300 km jalan ke akses-akses pertanian, seperti di Asparaga, Boliyohuto, Dulamayo, Tibawa dan masih banyak lagi.

Jika dicermati, konsep Berawal di akhir berakhir di awal sangat sederhana. Konsep ini adalah upaya untuk menghindari keterjebakan pemikiran “teori dulu, praktek belakangan” “Praktek dulu, teori belakangan”. Untuk menjadi mahir belajar gitar, langsung pegang gitar dan praktek, itu yang terpenting, soal teori tentang nada, itu belakangan, demikian juga untuk belajar naik sepeda, tidak perlu belajar teori tentang keseimbangan, tapi langsung ambil sepeda dan belajar, soal teori keseimbangan itu belakangan. Artinya, yang terpenting itu substansi, bukan seremonial. Yang penting itu bukti, bukan retorika.

Begitu pula dengan konsep “nilai tambah”, BJ Habibie mengatakan, bahan baku yang digunakan untuk memproduksi Mobil Super Kijang yang harganya Rp. 100 juta, sama dengan bahan baku yang digunakan dalam memproduksi “Mobil Mercy” hanya saja, Mobil Mercy menjadi mahal dan memiliki “nilai tambah” karena ada sentuhan Teknlogi tingkat tinggi sehingga memiliki “nilai tambah” 5 kali lipat dari Super Kijang.

 

Penulis : Ali MobiliU