Pranala.co.id – Dinamika pada perhelatan pesta Demokrasi sudah menjadi hal yang biasa ditengah pergulatan politik pemilhan kepala daerah, bagi Profesor Nelson Pomalingo, itu sudah menjadi hal yang biasa, seperti organisasi pada umumnya jelas juga memiliki dinamika, hal tersebut diutarakan Helmi Hippy pada awak media.

Helmi mengatakan, Dalam penilainnya, setiap momentum pesta demokrasi sebelumnya dan yang telah berlangsung pula pada 2020 kemarin, Prof Nelson ialah sosok pemimpin yang tidak serta merta mengedepankan ambisius untuk meraih sebuah kemenangan, tidak sama halnya dengan orang lain, bahkan dalam kacamata masyarakat, Nelson ialah sosok yang sangat tauladan dalam mengambil sikap politiknya.

Dengan tegas didepan awak media, Helmi pun merasionalisasikan apa yang menjadi dasarnya bicara, seperti pada proses demokrasi yang pernah terjadi, Prof Nelson salah satu kandidat calon Gubernur Provinsi Gorontalo kala itu, namun pada kesempatan itu beliau termasuk salah satu calon yang dinyatakan kalah, tetapi secara langsung, Nelson legowo atas pemilihan tersebut yang menyatakan dirinya kalah.

“Sosok Nelson dimata kami rakyat Kabupaten Gorontalo (Kabgor) pemimpin yang senantiasa mengedepankan rasa ikhlas ketika kalah dalam pertarungan Pemilihan Kepala Daerah, bahkan dirinya orang yang pertama kali mengucapkan selamat bagi calon yang telah memenangkan peehelatan Pilgub tersebut, baginya memberikan ruang kepada orang-orang yang punya kapasitas dan keinginan untuk membangun Gorontalo adalah sebuah kematangan dalam berpolitik.” Jelas Helmi.

” Dirinya tidak menandatangani gugatan kala itu, karena sebagai calon wakil gubernur, pak Nelson bukan dalam kapasitas sebagai penentu, menandatangani atau bahkan diminta untuk menandatangani proses gugatan di Mahkamah konstitusi, ” Tukas Helmi menambahkan.

Lanjut Helmi, Jadi pada dasarnya proses kontestasi Pada Pilkada ini adalah proses yang diinginkan oleh rakyat.

Oleh sebab itu, kini rakyat sudah memilih, mestinya kalau memang menjadi pemimpin yang bijak, negarawan, harusnya tidak ambisius dan memperlihatkan jiwa kenegarawanan. Jiwa besar yang menerima dan menghargai pilihan rakyatnya adalah yang paling ideal.

Senada dengan itu, Adam Kasim mengatakan cerita yang digambarkan Helmi kepada sosok Prof Nelson saat Pilgub kala itu memang benar adanya, dirinya mengungkapkan juga pernah mendengar cerita itu. Tidak menandatangani gugatan, karena Nelson Pomalingo sangat menghormati pilihan rakyat kala Pilgub lalu.

” Saya juga dengar seperti itu. Beliau (Nelson) tak mau jika tindakannya itu hanya lahir karena keterpaksaan, bukan karena ada ketidak-beresan dalam Pilgub lalu. Dan ini yang kami acukan jempol. Nelson adalah sosok yang bijaksana dalam berpikir, sehingga bagi kami sosok ini layak memimpin daerah karena bukan orang ambisius, ” Ujar Adam.

Terakhir, tokoh pemuda Bongomeme Cs, Edi Nurkamiden menambahkan, Profesor Nelson Pomalingo adalah orang yang selalu menghormati proses regulasi. Apapun yang terjadi beliau melaluinya dengan baik dan tidak grasak-grusuk.

” Bisa saja, seluruh pendukung melakukan tindakan atau apa saja bagi siapapun orang yang menentang. Tetapi beliau (Nelson) selalu mengingatkan untuk tidak melakukan tindakan-tindakan yang dapat merusak tatanan demokrasi. Karena tujuan Sang Profesor hanya mau untuk membangun daerah bukan untuk merusak daerah.” Tutup Edi.