Pranala.co.id (Kota Gorontalo), Bukan hanya Jabodetabek, Kota Gorontalo (5/01/2020) diguyur curah hujan yang sangat deras. hal tersebut mengakibatkan di beberapa titik mengalami genangan yang mengakibatkan beberapa masyarakat angkat bicara.

Banjir kali ini terjadi di wilayah kelurahan Limba U1, U2 dan sekitarnya di awal Januari tahun 2020 ini.

Bukan hanya itu jalan Jendral Sudirman dan sekitaran kompleks Kampus Universitas Negeri Gorontalo juga terkena dampaknya, sampai aktivitas kendaraan roda dua, dan tiga (bentor) menjadi macet total.

Arief pedagang nasi kuning (24thn) sekaligus mahasiswa dari salah satu kampus mengatakan, banjir di kawasan jalan Jendral Sudirman dan sekitarnya itu sudah biasa, karena memang kelurahan Limba U1 dan Limba U2 adalah langganan banjir tahunan jika intensitas curah hujan tinggi dan itu terbukti dari tahun-tahun kemarin.

Lanjut Arief, bahwasanya jalur ini memang sering di lalui kendaraan karena akses ke jalan pusat kota yakni menghubungkan dengan jln Panjaitan ext. Jl. Nani wartabone sehingganya biar banjir tetap saja dilewati.

Sementara itu ditempat berbeda, iman salah satu masyarakat limba U1 RT01/RW01 mengatakan hujan deras memang tidak bisa dipermasalahkan, karena hal itu datangnya dari Tuhan, namun hujan yang selalu mengakibatkan banjir diwilayah Limba U, tentunya menjadi kode kepada pemerintah untuk lebih responsif, karena sering terjadi diwilayah ini walau hanya 1 jam curah hujan pasti wilayah ini banjir.

“Sejauh ini ketika aparat kelurahan datang tatap muka dengan masyarakat, aspirasi yang terus disampaikan masyarakat ialah perbaikan drainase dan pengarukan jalan yang dirubah menjadi paving blok, sehingga ketika hujan deras, air langsung masuk ketanah, namun tiap tahun disampaikan, pemerintah tidak ada tindak lanjutnya, seolah tebang pilih dalam pembangunan, hanya di wilayah pasar sentral dan lain sebagainya yang di perbaiki dan di tata sementara RT01 /RW 01 Limba U1 tidak pernah diseriusi, ada apa sebenarnya.” Tuturnya.

Lanjutnya, bebrapa minggu kemarin pada akhir desember, Pihak kelurahan langsungkan tatap muka bersama masyarakat, tapi apa hasilnya dan apa realisasinya, soal drainase dan jalan sudah menjadi masalah klasik yang tidak pernah diseriusi pemerintah.

“Aparat kelurahan hanya datang akhir desember dalam rangka rembuk warga, mirisnya hal itu hanya dilaksanakan semalam dan bisa dikata hanya 3 jam, kalau saya melihat di kelurahan hulonthalangi, disana rembuk warganya sampai 3-4 hari, karena saya tau mereka serius untuk rakyat, nah bagaimana dengan kita di kelurahan Limba U1, tatap mukanya jarang, ketika dilaksanakan hanya sekali saja di akhir desember pula, ada apa gerangan, jangan sampai rembuk warga itu hanya sebagai acara seremonial penghabisan anggaran 2019.” Tuturnya.

Kader HMI itu menambahkan, jikalau pemerintah serius akan hal ini, tidak ada masayarakat yang mengeluh, Gorontalo sudah 20 tahun menjadi provinsi tapi ketika hujan, air meluap dimana – mana dan banjir padahal sudah lama menjadi Provinsi, apakah nanti sudah banjir besar baru direspon pemerintah, hal ini kemudian yang menjadi pertanyaan besar bagi kami masyarakat.

“Sejauh ini saya hanya mendengar prestasi – prestasi pemerintah, tapi apa, dibalik prestasi, masi ada masyarakat kota yang mengeluh, saya saja ketika hujan 1 jam lamanya, pasti rumah kami dimasuki air hingga ke kamar – kamar pasti dengan hal ini susah beraktivitas, kami hanya minta pemerintah dalam hal ini kelurahan harusnya lebih responsif, banyak studi kasus pemerintahh tidak responsif, contoh, ketika kerja bakti, aparat kelurahan datang untuk budaya gotong royong, setelah kami bekerja kebanyakan dari mereka hanya sua foto saja, berarti kami masyarakat hanya dijadikan obyek untuk menaikkan popularitas.” Tutupnya.