“Anda tidak dapat lepas dari tanggung jawab hari esok dengan menghindariya hari ini. Pastikan Anda meletakkan kaki di tempat yang tepat, lalu berdirilah teguh disitu” — Abraham Lincoln

Pranala.co.id (Opini) – Jakarta, 26 Desember 2020 – Putra Gorontalo yang satu milik rakyat Indonesia, nama beliau adalah Rachmat Gobel, beliau lahir di Jakarta pada 58 tahun silam meskipun demikian darah Gorontalo mengalir deras ditubuh beliau. Beliau merupakan generasi kedua dari perusahaan National Gobel Group yang didirikan oleh ayahnya, Thayeb Mohammad Gobel.

Nama besar beliau eliau sejak awal dikenal sebagai salah seorang pengusaha sukses di Indonesia jauh sebelum beliau terjun ke dunia politik. Beliau pun merupakan salah satu figur yang pernah ditunjuk sebagai Menteri Perdagangan sejak 27 Oktober 2014 hingga 12 Agustus 2015 dalam Kabinet Kerja Joko Widodo di Periode 2014-2019 dan saat ini beliau menjabat sebagai Wakil Ketua DPR-RI yang membidangi Industri dan Pembangunan. Background dan karir yang luar biasa mentereng sebagai seorang tokoh nasional dari Indonesia Timur khususnya Gorontalo.

Miris, diksi ini penulis pilih untuk melabeli gerakan dan agenda yang terframing atas nama Rachmat Gobel di berbagai platform. Entah ini adalah keinginan beliau atau orang-orang yang berada di sekitar beliau. Intinya, saya melihat beliau bermain di ranah yang terlalu kecil, panggung yang terlalu sempit, dan bahkan bukan arenanya untuk bermain.

Terlepas beliau sebagai anggota DPR-RI dari Dapil Provinsi Gorontalo yang memiliki kewajiban dan tanggung jawab kepada masyarakat Gorontalo, namun saat ini beliau adalah salah satu tokoh penting dari Indonesia timur yang merepresentasikan kekuatan kolektif di kancah nasional atas nama Indonesia Timur. Pasca Jusuf Kalla rasanya beliau adalah salah satu tokoh yang layak dan harus didorong untuk menjadi perwakilan Indonesia timur dalam kepemimpinan nasional.

Program-program untuk kepentingan masyarakat Gorontalo tetaplah satu kewajiban untuk dilaksanakan dan berikan atas nama beliau tanpa harus melibatkan beliau di ruang publik secara langsung. Pengawalan dan pelaksanaan dalam penyaluran program-program ke daerah patut kiranya dikerjakan oleh orang-orang yang berada dilingkaran beliau, tentu hal ini selain sebagai panggung bagi orang-orang yang harus beliau “terbitkan” di daerah juga merupakan bukti bahwa tim bekerja maksimal untuk Bapak Rachmat Gobel dan rakyat Gorontalo.

Belum disadari atau pura-pura lupa, bahwa sosok Bapak Rachmat Gobel harusnya disedikan atau mendapatkan panggung yang lebih besar di nasional, khususnya wilayah Indonesia Timur tujuannya jelas; yakni selain mensosialisasikan diri secara lebih intens juga mengkonsolidasikan kepentingan nasional masyarakat Indonesia Timur khususnya bidang ekonomi, industri dan pembangunan yang harus setara dan merata secara nasional.

Upaya untuk menghadirkan Bapak Rachmat Gobel dalam setiap penyaluran dan peluncuran program di Provinsi Gorontalo menurut penulis adalah langkah yang mengkerdilkan gerakan beliau, sebab sekali lagi beliau harusnya hadir di ruang-ruang yang menasional, tanpa bermaksud untuk mendiskreditkan masyarakat Gorontalo tapi rakyat Gorontalo “tidak” egois sebab selain perhatian yang tidak berkurang dari beliau, beliau pun sudah harus diikhlaskan untuk menjadi pemimpin nasional, milik Indonesia.

Tokoh-tokoh di daerah yang sewajarnya di orbitkan oleh Bapak Rachmat Gobel bisa dimulai dari internal Partai Nasdem, misalnya ada Bapak Rustam Akili, Bapak Prof. Syamsu Qamar Badu, Bapak dr. Budi Doku, dan Bapak Hamim Pou yang baru saja terpilih di periode kedua sebagai Bupati Bone Bolango. Atau jika beliau berbesar hati maka selain dari interna Partai Nasdem beliau bisa mengorbitkan beberapa nama besar lainnya di kancah perpolitikkan di daerah. Sebab penulis menganggap bahwa nama-nama diatas sudah sangat merepresentasikan Bapak Rachmat Gobel di daerah, sehingga kehadiran beliau secara fisik tidak membatalkan kehadirannya dalam bentuk kebijakan.

Pada intinya penulis hanya merasa “miris” atau lebih ekstrim lagi ini sangat “ironis” jika tokoh sekalas dan sekaliber Bapak Rachmat Gobel harus mondar-mandir balik ke daerah hanya untuk melegitimasi diri sebagai figur yang merakyat atas bisikan orang-orang disekitarnya, sebab penulis yakin dan percaya bahwa beliau Bapak Rachmat Gobel juga punya niatan yang sama untuk mengabdikan diri untuk bangsa yang besar ini khusunya masyarakat Indonesia Timur yang merindukan kepemimpinan nasional hadir representasi wajah Indonesia Timur.

Terakhir dalam tulisan yang singkat ini, penulis ingin menghadiahkan dan menawakan gagasan sebagai juga salah satu Putra Gorontalo yang menempuh pendidikan di Jakarta, penulis saat ini juga di percayakan sebagai Ketua Umum Asosiasi Pemuda Mahasiswa Indonesia Timur (APMIT) untuk Bapak Rachmat Gobel untuk bisa hadir atau mengambil bagian dalam Simposium Nasional Indonesia Timur, yang akan mengulas tuntas tentang Sosial, Budaya, Ekonomi, dan Politik di Indonesia Timur juga menghadirkan para pakar yang akan menyusun road map pembangunan di Indonesia Timur menyongsong Indonesia di 2030.

Sekian tulisan ini, semoga menjadi bahan pertimbangan, evaluasi dan bahan untuk bermetakognisi untuk sama-sama menjadi lebih baik kedepan. Dialektika seperti ini merupakan dinamika yang biasa-biasa saja dalam wacana pembangunan nasional secara utuh, kritik dan saran diharapkan agar penulis dapat mendapatkan bahan pembelajaran untuk menjadi lebih baik, terima kasih kepada pembaca yang setia dan permohonan maaf jika terdapat kesalahan dan menyinggung pihak-pihak tertentu.

Penulis:
Rifyan Ridwan Saleh, S.H.
Ketua Umum APMIT