Oleh : Ali Mobiliu

Pranala.co.id (Opini) –Jika membuka kembali lembaran demi lembaran memori perjalanan karirnya, dalam rentang waktu 21 tahun terakhir ini, Nelson selalu saja dihadang dengan “fitnah“ dan isu miring lainnya yang agitatif dengan gerakan yang massif. Bedanya, jika dulu fitnah dan tirani yang menghadang karirnya, disebar dan tersebar secara verbal sehingga tidak meletup ke relung-relung kehidupan masyarakat. Maka saat ini, dengan keberadaan Media sosial (Medsos), semua fitnah dan isu miring yang dilancarkan oleh “rival-trivalnya” terkesan sangat vulgar, kasar dan membabi buta. Dalam sejarah kepemimpinan Nelson, selalu saja ada orang yang benci dan sekadar tidak suka pada figur dan kepemimpinannya.

Selain itu, jika dirunut, Nelson terkadang menjadi korban “ambisi”, menjadi korban dari para “petualang” dan bahkan boleh disebut, karena Nelson orang yang baik yang selalu berpikir positif ke setiap orang, maka ia tidak jarang menjadi korban pengkhianatan” dari orang-orang yang sudah diperlakukannya dengan baik sekalipun.

Jadi bagi seroang Nelson, cobaan seperti fitnah, isu miring yang bersifat agitatif, politik adu domba dan bahkan pengkhianatan sudah berulang kali menimpa dirinya. Artinya, Nelson sudah kenyang dengan kehadiran kelompok agitatif yang selalu menghembuskan isu miring untuk menggoyang kursi kepemimpinannya. Lagi-lagi jika dirunut kembali, serangan yang digencarkan untuk menggoyang Nelson selalu bertepatan dengan momentum yang hampir bersamaan, yakni di penghujung masa jabatannya atau menjelang suksesi.

Pertanyaannya, mengapa serangan yang digencarkan oleh “lawan-lawan” politiknya sarat dengan fitnah yang agitatif, terutama selalu berkaitan dengan skandal yang masuk ke ranah yang sangat pribadi?. Jawabannya sederhana, karena hanya dari sudut dan cara itu, Nelson bisa diserang, dicemarkan dan dijatuhkan. Bicara tentang kinerja, capaian dan prestasi, Nelson terbilang “jago” sehingga rivalnya, orang-orang benci dan sekadar tidak suka pada figur dan kepemimpinannya, enggan masuk ke ranah itu.

Pada 2006, ketika babak baru pemilihan Rektor UNG yang pertama akan digelar misalnya, Nelson ketika itu dihadang dengan isu-isu miring yang seakan merongrong martabat pribadinya. Namun, semua upaya yang tidak fair dan tidak sportif itu, ternyata tidak berhasil. Buktinya, Nelson tetap terpilih sebagai Rektor UNG pertama di tahun itu. Lantas, berhenti sampai distu? Tidak ! Nelson masih tetap saja diganjal lewat pelantikan yang sempat tertunda hingga kurang lebih 9 bulan lamanya.

Prestasi gemilang Nelson hanya dalam 2 tahun sebagai Rektor IKIP Negeri Gorontalo, yang ternyata sulit dieliminir oleh fitnah dan agitasi yang digencarkan itu, adalah kepemimpinannya yang mampu melakukan perubahan status IKIP Negeri Gorontalo menjadi Universitas. Tantangan terberat Nelson ketika itu adalah, melakukan perlawanan terhadap kebijakan Menteri Pendidikan yang bersikukuh mempertahankan 2 IKIP Negeri di Indonesia, yakni IKIP Negeri Gorontalo dan IKIP Negeri Bali, yang konon tidak akan direnumerasi menjadi Universitas.

Namun, berkat kegigihan Nelson, yang bahkan harus rela “antri” di kediaman Presiden Megawati Soekarno Putri berhari-hari, akhirnya memaksa Menteri Pendidikan mengubah kebijakannya. IKIP Negeri Gorontalo pun menjadi Universitas. Yang menarik, peresmian IKIP Negeri Gorontalo tahun 2004 oleh Presiden Megawati Soekarno Putri kala itu, berbeda dengan peresmian IKIP lainnya, yakni diresmikan dulu, SK Belakangan. Sampai-sampai Gubernur Fadel Muhammad, sempat memuji Nelson sebagai pemimpin yang cerdas yang bisa diandalkan.

Tahun 2007, Nelson meraih predikat Guru Besar, di depan namanya ketambahan kata “Professor” dan tidak berapa lama kemudian, ia didaulat mengikuti pendidikan LEMHANAS di Jakarta selama kurang lebih 3 bulan. Sementara performance kampus yang dipimpinnya, terus bergeliat dengan perkembangan yang cukup dinamis. Mahasiswa sudah menembus angka 20 ribu orang dari sebelumnya hanya sekitar 8 ribu orang, kualifikasi dosen mulai dari S2 dan S3 terus bertambah, pendapatan asli Kampus juga meningkat dan maraknya pembukaan fakultas dan jurusan baru non kependidikan di UNG, menjadi instrumen yang menjadikan nama Nelson terus berkibar.

Ditengah dedikasi dan prestasinya yang menanjak, pada 2009, Nelson lagi-lagi dihadang dengan FITNAH KEJI, yakni kasus program Sertifikasi guru. Kasus ini bermula dari SURAT KALENG yang sengaja ditebar di mana-mana. Anehnya, kasus tersebut begitu cepat diproses hingga ke Pengadilan. Yang mengusik rasa keadilan elemen guru ketika itu adalah, Kasus-kasus besar yang sudah ada indikasi kuat terjadinya penyimpangan, tidak diproses, justru yang diproses adalah kasus Sertifikasi Guru yang nota bene hanya bermula dari SURAT KALENG. Nelson bahkan ketika itu langsung ditahan dan dijebloskan ke penjara.

Yang mengharukan, saat Nelson dijebloskan ke penjara, salah seorang warga yang belakangan diketahui dari Atinggola, mendatangi Gedung Kejaksaan, sembari menangis dan memelas pada petugas, agar Sang Deklaratorr Provinsi Gorontalo itu tidak ditahan dan ia siap menggantikan posisi Nelson. “Ti Pak Nelson jangan ditahan pak, dia banyak tugas untuk masa depan daerah ini, biar nanti saya yang ba ganti pa ti Pak Nelson di dalam (penjara)” pintanya sembari menangis.

Menyaksikan hal itu, Pengurus PGRI Provinsi dan Kab./Kota, tidak dapat membendung tangis haru. Semua larut dalam kesedihan melihat Ketua PGRI Provinsi itu meringkuk dalam tahanan dengan tuduhan yang mengada-ada. Tidak hanya pengurus PGRI se Gorontalo, PB PGRI juga prihatin melihat perlakuan terhadap Nelson. Sebagai bentuk keprihatinan itu, PB PGRI lantas mengirimkan pengacara terbaiknya untuk membela Nelson. Disusul kemudian keterpanggilan ribuan guru dari Kabupaten se Gorontalo, minus Kota Gorontalo yang tumpah ruah turun ke jalan melakukan aksi unjuk rasa menuntut keadilan.

Salah seorang guru senior dan Pengurus PGRI Kota Gorontalo, Ibu Mukmin Katili seperti dikutip wartawan Gema PGRI mengatakan, Meski Guru di Kota Gorontalo “dilarang” turun ke jalan, namun munajat guru untuk Nelson tidak dapat dibendung oleh siapapun. “Kitorang guru di Kota Gorontalo tidak turun ke jalan, karena ada intruksi, tapi kami guru-guru di sini, bersujud mendoakan Nelson agar terhindar dari fitnah yang keji, itu lebih afdol daripada sekadar unjuk rasa”. ucapnya lirih.

Tidak hanya itu saja, salah seorang Guru senior yang juga pengurus PGRI Provinsi Gorontalo, sembari geleng-geleng kepala ketika itu di hadapan penulis, pernah berujar “He Penggowa Lingoliyo aati Te La’iki’a ti”. Artinya kurang lebih, “mereka ciderai, mereka celakai kasihan si kecil ini (Nelson) agar terlihat (menjadi) cacat secara politik”. Bersyukur, Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi Gorontalo dalam amar putusannya, akhirnya menyatakan, bahwa Nelson terbukti TIDAK BERSALAH. Putusan yang disambut gembira oleh para guru itu, diperkuat lagi oleh putusan Mahkamah Agung (MA) yang menyatakan Nelson BEBAS MURNI.

Mengapa Nelson lagi-lagi dihadang dan difitnah ketika itu? apalagi kalau tidak bertendensi politik di dalamnya. Maklum, ketika itu menjelang momen suksesi pemilihan Rektor UNG pada 2010. Meski pada akhirnya, Nelson memilih tidak mencalonkan lag di tengah peluangnya yang masih berhak untuk maju. Selain itu, wacana tentang siapa yang kelak menjadi Gubernur masa depan Gorontalo, juga terus berhembus. Ketika itu, Nelson disebut-sebut masuk nominasi sebagai calon terkuat Gubernur.

Bahkan ada yang memprediksi, jika Nelson berpasangan dengan Idris Rahim, maka pertarungan selesai. Optimisme dan prediksi itu wajar dan realistis, mengingat predikat Nelson sebagai Deklarator Provinsi Gorontalo, kemudian posisinya sebagai Ketua PGRI yang beranggotakan sekitar 15 ribu Guru dan 12 ribu Guru Honor, faktor pemilih mahasiswa yang mencapai ribuan orang, aktifitas Nelson di berbagai organisasi di daerah, di tingkat regional dan pusat serta performance kepemimpinannya di kampus UNG, adalah deretan asumsi yang meyakinkan, hingga Nelson sangat diperhitungkan dalam perhelatan politik.

Pada Pilgub 2011 dan Pilkada serentak 2015 lalu, fitnah dan tudingan miring tentang Nelson, secara massif berhembus kemana-mana hingga masuk ke pelosok-pelosok. Ada yang menyebar isu, misalnya, jika Nelosn terpilih, siap-siap kalian aparat “kerja keras tanpa ampun” dan masih banyak lagi isu miring lainnya yang sengaja dihembuskan. Pernah, salah seorang guru menceritakan pengalamannya, ketika singgah di salah satu kios warga jelang perhelatan Pilgub 2011 silam.

Saat menyinggung tentang politik, pemilik Kios itu tiba-tiba nyeletuk “Dorang bilang Te Nelson ini Bangganga, ada yang ba singgah kamari, dilihat dari penampilannya sepertinya ya.. tim sukses”. Mendengar celetukan itu, sang Guru kaget dan sejenak terdiam. Ia tidak habis pikir, siapa yang tega menyebar fitnah seperti itu?. Sebagai seorang Guru, ia kemudian menjelaskan yang sesungguhnya tentang Nelson yang ia kenal. Sang pedagang pun akhirnya nampak tersadar dan mengatakan siap memilih Nelson. Masih banyak lagi isu miring serta tudingan lainnya yang kesemuanya mengarah pada “pembunuhan karakter” terhadap seorang Nelson.

Bersyukur, rentetan serangan dan agitasi dari setiap periode suksesi semasa di UNG dan di perhelatan Pilkada, mampu dilaluinya dengan tenang, sabar dan penuh ikhtiar. Tidak heran, jika nama Nelson tetap dan terus berkibar di kancah politik, beserta karya-karyanya untuk Gorontalo yang terus saja mengalir tak terbendung.

Kini, setelah Nelson Pomalingo menjadi Bupati dan hanya dalam rentang waktu yang sangat singkat, yakni 4 tahun saja, prestasi dan kinerja pemerintahannya, terlihat begitu vulgar dengan indikator-indikator keberhasilan yang jelas dan terukur, Bupati Nelson lagi-lagi di penghujung masa jabatannya, mendapatkan cobaan dengan serangan-serangan fitnah yang sangat agitatif, terkesan lebih kasar dan lebih vulgar yang tertuju kepadanya.

Dari rentetan serangan, berupa fitnah dan manuver yang digencarkan jelang Pilkada saat ini, sangat nampak, “lawan-lawan” politik Nelson mulai “bermain kasar”. Dengan demikian boleh disebut, Nelson saat ini tengah didzolimi, Nelson seakan tengah teraniaya secara politik.

Namun yang patut disyukuri, semua cobaan yang menimpanya itu, disahuti Bupati Nelson dengan satu jawaban, fokus bekerja dan bekerja. Buktinya, pada saat ia menghadapi manuver yang digencarkan para politisi yang “berseberangan” partai dengannya, justru Pemerintah Kab. Gorontalo mendapatkan dana insentif dari Pemerintah pusat senilai Rp. 13 milyar, sebagai kompensasi keberhasilan Pemerintah Kab. Gorontalo dalam penanganan pandemi Covid-19.

Jika dicermati, mereka yang boleh disebut rival politik Nelson, yang sudah hampir satu tahun lebih melancarkan serangan, nampaknya mulai kehilangan amunisi, kehilangan akal sehat dan bahkan kehilangan “nurani” kemanusiaan Yang menarik lagi, Jika melihat rentetan serangan, modus dan taktik yang coba dimainkan akhir-akhir ini, nampaknya ada upaya dari pihak-pihak tertentu yang mencoba melakukan politik “adu domba” yang mengingikan PPP pecah dan tidak solid dalam mendukung Nelson. Bahkan, jika diamati lagi, ada yang sangat bernafsu untuk “menjegal” jangan sampai Nelson lolos pada penjaringan Pilkada.

Hal ini menunjukkan bahwa, mereka sudah pasti memiliki kalkulasi dan asumsi-asumsi, bahwa kalau Nelson lolos menjadi peserta Pilkada, hampir dapat dipastikan Nelson akan unggul. Maka ia harus dijegal jangan sampai lolos di Pilkada. Jika sudah ada kata “harus” maka potensi bermain kasar dan menghalalkan berbagai macam cara, akan ditempuh. Tidak heran, jika aroma politik di Kab. Gorontalo, dalam beberapa bulan ke depan ini, akan penuh dengan intrik-intrik, isu skandal, rekayasa, manuver politik adu domba dan fitnah akan terus menggelinding.

Namun apapun manuver yang dimainkan dalam sebuah pertarungan politik, masyarakat yang cerdas menjadi sangat penting dan menentukan. Masyarakat Kab. Gorontalo diyakini adalah tatanan masyarakat yang cerdas, yang mampu membedakan siapa yang bekerja, siapa pejuang sejati dan siapa yang sekadar mengejar “ambisi” kekuasan.

 

(*) Penulis adalah pemerhati politik dan budaya Gorontalo.