Pranala.co.id (Ulasan) – Bicara pandemi, masyarakat termasuk saya kayaknya mulai jenuh dengan aktifitas #dirumahaja. Berbulan-bulan berdiam diri didalam rumah, dengan aktifitas yang itu-itu saja, sangat membosankan ditambah lagi penerapan PSBB yang hanya dilakukan malam hari. Ada apa di malam hari? Ahsudahlah, itu urusan pemerintah bukan seperti saya dan mereka hanya elit rebahan.

Selama 3 bulan terakhir berdiam diri dirumah, dan sesekali aktifitas diluar rumah hanya ingin merasakan sinar matahari kayaknya tidak menjadi pengaruh pada psikologi kita. Sebagai manusia sosial, tentu kita terbiasa ingin keluar hanya sekedar menyapa atau ngobrol tentang suatu projek demi bisa mendapatkan upah sebungkus rokok.

Namun, kita dipaksa rebahan dan kembali kekasur untuk melihat dunia lewat smartphone masing-masing dengan hashtag #dirumahaja. Entah kapan pandemi ini berakhir, tapi saya berharap tulang punggung ini sesegera mungkin bisa merasakan aktifitas seperti biasanya (duduk disudut alfamart bersama teman-teman ngobrol lucu dan rebahan lagi).

Jangan lagi ada kejutan aneh untuk kami para elit rebahan, mendengar kabar penerapan PSBB diperpanjang atau diliburkan kembali. Kami muak akan hal ini, kami ingin bekerja, ingin nongkrong santai. Saya harap pemerintah gorontalo bisa mendengar suara kami. Suara yang entah kapan akan diijabah oleh aturan yang telah diberlakukan.

Amin… perlahan, saya mulai paham arti kata amin yang saya katakan barusan, ternyata hanya diamini oleh saya sendiri, yang tetap akan kembali rebahan lagi dan lagi. Tabuhan genderang seruan untuk #DiluarAja belum digalakan, sehingga saya akan tetap kembali rebahan.

Penulis : Manusia Rebahan