Oleh : Syam Rizal Abbas.       

Waktu begitu pongah berlalu; tanpa ampun menerabas segenap aktivitas manusia di bumi. ia senantiasa datang dan membawa berbagai perubahan penting; tentang kehidupan manusia di bumi.

Waktu tak cukup ”kuat” dan “berbakat” untuk menunggui “keinginan” beberapa insan yang hadir dalam “ruangnya”. Ia dengan mantap terus berlalu, tanpa niatan sama sekali tuk “berkompromi”; meskipun hanya sekadar menoleh kepada masa lalu yang tertinggal di belakangnya, misalnya.

Tak hanya itu, proses berlalu dan berjalannya waktu seolah telah membentuk semacam puzzle-puzzle melankolik; saat tempo hari ia berhasil menabur beberapa jejak kenangan bin kerinduan yang tertinggal di belakangnya. Saya meyakini bahwa sebagian kita –manusia zaman old- seolah berkeinginan untuk hadir kembali di masa lalu (anak-anak) itu; saat dunia kita belum dicekoki berbagai problematika hidup yang begitu membelenggu.

Realitas kita tempo hari seolah dengan mudahnya menyuguhkan kebahagiaan yang mo’oiyomo sekaligus mo’ololo kala diingat. Yakni, saat pulang sekolah wawahe’a mo hama upo wawu bohulo to bihu lo dutula menjadi agenda rutin; saat kibasan bani li papa membuat kita ‘‘bertaubat” dengan sekejap untuk motilandahu wawu molihu to dutula; saat mohindinga wolo tamani menjadi pelepas penat sepulang sekolah; saat masakan nike, sagela, wawu kando li mama mampu mengalahkan cita rasa masakan restoran paling mewah sekalipun; atau saat komunikasi di masa-masa pacaran dulu ternyata harus dengan susah payah berkirim surat, atau saling berkirim pesan via hape butut, yang jika isi pesan teralu panjang namun tak ditopang oleh pulsa yang memadai, maka akan tertulis –misalnya : “…nou, ti kaka sayang ti nou, sholat-sholat kasana ti nou wua, ti kaka olo sadiki lagi mo ba sholat ini, bo masih ti papa ada suruh ba totabu akan dungo binthe lo sapi eiyy. Pokoknya ti kaka… Sebagian text hilang…”.

Kini, waktu tlah berubah secara drastis. Waktu telah “menyulap” zaman mejadi “serba lain”. Kita nyaris tak lagi mendapati generasi “zaman now” berlumur aktivitas seperti kita –“generasi zaman old”¬- dulu.

Mereka tampak asyik dengan “produk zaman” mereka; berupa seperangkat tekhnologi gadget yang di dalamnya semayam berbagai fitur media sosial serta game online yang dengan modal kuota data yang melimpah, maka dapat dioperasikan dengan semaunya.

Sehingga, kuota data yang melimpah itu menjadi semacam “condition sine qua non” dari puncak kebahagiaan mereka.
Sebelumnya, kita pasti tak mengira zaman akan sangat “radikal” berubah seperti ini. Meskipun, berpuluh tahun lalu banyak ilmuan yang telah memprediksi bahwa zaman pasti akan berubah secara drastis –dari era Teologi menuju era Ideologi, hingga tiba pada era Tekhnologi, persis seperti kita –“generasi zaman old”- dan generasi “zaman now” rasakan dewasa ini.

Namun, melampaui itu, akhir-akhir ini ada yang sedemikian memilukan perihal tingkah-laku generasi “zaman now”, khususnya di Provinsi Gorontalo. Bahwa pada beberapa kesempatan, sebagian mereka sering diterpa soalan yang menggemaskan, menjengkelkan, mengerikan, sekaligus meresahkan masyarakat secara kolektif. Adalah kasus panah wayaer yang menjadi asbabnya.

Berbagai pemberitaan via media online dan cetak seolah tak pernah sepi untuk memberitakan berbagai kasus penembakan panah wayer. Dan sialnya, yang menjadi otak sekaligus pelakunya ada generasi mereka –mayoritas didominasi oleh pelajar berumur belasan.

Kita seolah dibuat terheran-heran serta kehabisan kata-kata dalam memahami soalan ini. Ada semacam “kesedihan sosial” tersendiri saat seringkali menjumpai kasus dan kejadian seperti ini. Ada keprihatinan yang serius terhadap peristiwa ini.

Kita seolah ingin diberi tahu oleh mereka yang memilki kemampuan memberi tahu. Apakah ini peristiwa individu atau kasus sosial? Apakah kejadian ini merupakan gejala personal subjektif-eksklusif, ataukah “refleksi”, semacam “simtoma” atau “defisit moral” dari atmosfer “kehidupan umum”? Apakah pelaku itu oknum, ataukah warga dari suatu “iklim kolektif” kita? Atau dalam konstruksi teosofis; apakah yang menjadi “terdakwa” di hadapan Tuhan hanya mereka saja? Atau kita juga? Sebab, seluruh kejadian di lingkungan kita bukankah tidak terlepas dari nilai-nilai kolektif kita.

Kita bisa saja “menyelamatkan diri” dengan cara menuduh mereka –pelaku panah wayer- sebagai pengidap “kelainan sosial”? tapi, apakah sel-sel “kelainan sosial” itu secara mutlak tidak ada dalam diri dan jiwa kita? Atau, jangan-jangan kita lah yang hidup dalam tradisi yang suka menyakiti terhadap sesama, yang ternyata bukan barang langka dalam praktik kehidupan kolektif kita. Persis seperti yang disampaikan Emha Ainun Nadjib.

Kita patut curiga dan menduga, jangan-jangan soalan ini hanyalah semacam “histeria-temporer” yang merupakan endapan dari iklim sosial yang tak bisa diretas oleh para ahli bahkan pemerintah sekalipun. Karena mereka hanya lebih sibuk untuk tenggelam mengurusi materi, angka-angka statistik ekonomi serta konfigurasi koalisi pilkada di masa mendatang, hingga lupa dan abai dalam memperhatikan soalan di masa sekarang.

Wallahu a’lam bisshawab…

 

*)Penulis ialah Ketua OKK KNPI Kota Gorontalo