Pranala.co.id (Limboto)- Dalam kondisi darurat Coronavirus, (Covid-19) Pimpinan pusat Muhammadiyan menerbitkan edaran tentang tuntunan ibadah sesuai fatwa Tajrih dan Tajdid.

Dilansir dari Kontan.co.id Sebagai organisasi terbesar di Indonesia, Muhammadiyah mengeluarkan 19 point maklumat darurat covid -19. Salah satu maklumatnya yakni poin ke 11 yang menyatakan Azan sebagai masuknya shalat tetap dikumandangkan pada setiap awal waktu salat wajib dengan mengganti kalimat, “hayya ‘alas-salah” dengan “Sallu fi rihalikum” atau lainnya sesuai dengan tuntunan syariat.

Ketua Dewan Mesjid Indonesia (DMI) Provinsi Gorontalo bantah edaran Ketua Umum Muhammadiyah terkait dikeluarkannya 19 poin salah satu diantaranya ialah poin 11 yang mengatakan lafadz Azan “Hayya Alas salah” diganti dengan “Sallu fi rihalikum”  yang artinya (salatlah dikenderaan kalian).

Menariknya, penggantian lafadz Azan tersebut telah dilaksanakan disalah satu mesjid yang berada di Desa Tabongo Kabupaten Gorontalo. Hal ini menuai tanggapan dari Ketua DMI Provinsi Gorontalo.

Sebagai Ketua DMI Nelson Pomalingo mengatakan, penyebutan lafadz adzan “Hayya Alasalah” tidak perlu diganti – ganti, karena jikalau orang yang mendengarnya tidak mengerti tentu akan menimbulkan penafsiran baru.

“Adzan bagi saya hanya mengingatkan, untuk melaksanakam Sholat, mau sholat dimana silahkan, entah itu dirumah maupun dimesjid, yang penting jangan banyak orang.” Tuturnya. Senin (6/4/2020).

Lebih lanjut Nelson menambahkan, jangan menambah – nambah lafadz lagi, sesuai saja apa yang selama ini dilaksanakan dalam rangka mengingatkan.

“Kalau mau sholat di rumah disilahkan, dan kalau mau sholat dimesjid juga disilahkan yang penting tetap melaksanakan protokol kesehatan.” Tegasnya