Pranala.co. (Gorontalo) – Penerimaan siswa baru tahun ajaran 2019/2020 di beberapa Sekolah Menengah kejuruan (SMK) di Provinsi Gorontalo mulai mengalami degradasi.

Mirisnya berbagai siswa lebih meminati mendaftarkan dirinya ke Sekolah Menengah Atas (SMA) disbanding SMK, hal ini membuat Anggota Komisi 1 DPRD Provinsi, Adhan Dambea temui Kepala Dinas Pemuda Dan olahraga, Hal ini pula dalam melaksanakan reses masa sidang ke 3 Tahun 2019/2020.

Adhan Dambea selaku  anggota DPRD Provinsi Gorontalo Komisi 1 mengatakan, Pemerintah Provinsi tidak maksimal dalam melakukan sosialisasi, sehingga SMK kurang diminati, sehingga kedepannya perlu ditingkatkan lagi.

“Kita turun kelapangan melihat kondisi pendidikan kita, khususnya di SMK, 1,2, dan SMK 3, setelah kita melihat kondisi dilapangan, mahalnya biaya praktek yang harus di bayar oleh orang tua siswa, sehingga mereka lebih memilih untuk menyekolahkan anaknya di SMA, dari pada SMK, seharusnya  solusi yang ditawarkan Pemerintah yakni, mereka harus menanggung separuh biaya tersebut.” Terang Aleg dari Partai Amanat Nasional.

Kunjungan Anggota DPRD Provinsi Gorontalo dalam reses masa sidang Ke-3, bertempat di SMK N 2 Gorontalo.

Sementara itu, Yosep P Katon selaku Kadispora mengatakan, Sosialisasi secara online terus dilakukan kepada siswa maupun orang tua siswa, tentunya langkah yang akan dilakukan kedepan, mensosialisasikan secara langsung kapada masyarakat bahwa SMK masi membuka pendaftaran, karena daya tampungnya masi banyak.

Faktor kurangnya peminat di SMK karena memang orang tua siswa terkungkung atas biaya, termasuk biaya praktek, nah ada beberapa praktek yang tidak didanai dengan dana BOS dan masi menjadi tanggungan orang tua.

Yosep juga mengungkapkan, Kebanyakan data pengangguran itu lulusan SMK, karena kurikulumnya, tidak sesuai dengan kebutuhan industry dunia usaha, sehingganya Dikbudpora kedepannya melaksanakan program penyelarasan Kurikulum dengan dunia industry.

Masalah di bidang pendidikan ini tentunya sekolah yang tataletaknya berada di Kota Gorontalo, terdapat 9 SMA yang terbagi atas 2 yakni, 7 SMA Negeri  dan 2 Sekolah Swasta,  sementara daya tamping hanya berkisar 2.48 sisiwa, dan pendaftarnya kurang lebih berkisar 4.765 sehingganya 2 ribu lebih tidak bisa kemana-mana, padahal peluang untuk masuk ke SMK masih begitu besar, terdapat 5 SMK Negeri dan 4 Swasta.

“sehingganya dalam mencarikan solusinya, hal ini terus kita konsultasikan bersama Kemendikbud RI melalui dialog secara intensif terkait dengan masalah yang tiap tahunnya berulang. Dan solusi dari Kemendikbud yakni, kita diberikan  Unit sekolah baru (USB), namun tentunya kita harus mencari lahan” Jelasnya. (9/7/2020).

Yosep juga menambahkan, Faktor lainnya ialah, kebanyakan siswa lebih berminat mendaftarkan diri ke  SMA Negeri 1 dan SMA Negeri 3 Kota Gorontalo, sehingganya mengatasi hal ini, Pemerintah akan mengadakan USB baru di wilayah  leato, dan Kelurahan Dungingi.

“Kementerian Sudah menanggarkan USB tersebut, hanya saja terkendala dengan pengadaan  lahan. Dan Pak Gubernur juga sudah menyampaikan untuk segera membuat perencanaannya mulai dari jangka pendek hingga jangka panjang serta buatkan proposalnya.sehingganya malah penerimaan siswa baru ini tidak jadi masalah tiap tahunnya.” Terang Kadispora Provinsi Gorontalo.