Pranala.co.id (Ulasan) – Nelson lebih memprioritaskan pembangunan bagi masa depan Kab. Gorontalo ketimbang hanya sekadar “menyenangkan hati” rakyat yang justru tidak mendidik. Nelson memang berbeda, ia pemimpin yang berlatar belakang akademisi yang lebih mengutamakan rasionalitas, obyektifitas dan sisi idealis dalam membangun, bukan politisi tulen yang terkadang lebih mengutamakan “citra” daripada membangun dan menata masa depan.

Bagi mereka yang kritis dan mengakui secara obyektif kemajuan di Kab. Gorontalo dalam hampir 5 tahun terakhir ini, pasti akan bertanya-tanya, Mengapa di era Bupati Nelson Pomalingo, Kab. Gorontalo maju dan berkembang?. Pertanyaan ini wajar, karena fakta dan realitas mengatakan bahwa di era Pemerintahan Bupati Nelson Pomalingo, Kab. Gorontalo terus mengalami perkembangan dan dinamika yang progresif.

Sebagai gambaran, angka kemiskinan yang turun dari 21,80 persen pada tahun 2015 menjadi 18,06 persen pada tahun 2019, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dari 63,63 tahun 2015 menjadi 65,8 di tahun 2019, penurunan tingkat pengangguran terbuka dari 3,62 persen tahun 2015 menjadi 3,21 persen pada tahun 2019. Demikian juga dengan program keadulatan pangan yang dicetuskan pemerintahan Nelson sejak tahun 2016 telah membuahkan hasil. Hal ini dapat dilihat dari tingkat produksi Jagung di Kab. Gorontalo yang meningkat dari tahun ke tahun. Sebagai contoh untuk tahun 2016 produksi jagung hanya sekitar 300 ribu ton, pada tahun 2017 meningkat menjadi 476 ribu ton, atau terjadi peningkatan sebanyak 50 persen. Selain itu, terjadi pula peningkatan produksi padi hingga mencapai angka 7,36 persen.

Masih terkait dengan pembangunan sektor pertanian, Pemerintah Kab. Gorontalo selama ini terus melakukan pendekatan dengan Pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Pertanian untuk mengucurkan dana segar bagi peningkatan produksi pertanian di daerah ini. Pendekatan yang dilakukan oleh Pemerintahan Nelson ternyata tidaklah sia-sia. Buktinya, tahun 2018 Kabupaten Gorontalo mendapat alokasi bantuan benih jagung melalui dana APBN seluas 6.087 Ha dengan metode perluasan areal tanam baru (PATB).

Tidak hanya itu saja, masyarakat banyak yang tidak mengetahui bahwa Kabupaten Gorontalo, dari tahun 2018 termasuk daerah dengan rangking 50 dari 397 Kabupaten/Kota se Indonesia sebagai daerah dengan Prestasi Kinerja Sangat Tinggi Berbintang Dua berdasarkan penilaian dari Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (LPPD) tahun 2016. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Dalam Negeri Cahto Kumolo pada malam Apresiasi Kinerja Penyelenggaraan Pemeirntahan Daerah yang berlangsung di Sultan Hotel jalan Gatot Subroto Jakarta pada Rabu (25/4) lalu. Kegiatan ini dirangkaikan pula dengan peringatan Hari Otonomi Daerah (OTDA) ke 22 tahun 2018.

Juga, siapapun, sebelumnya tentu tidak pernah membayangkan, jika Kota Limboto misalnya, yang sudah memiliki Taman Budaya, memiliki Food Court yang tengah dikebut pembangunannya dan bakal menambah suasana ibukota yang kian semarak. Juga, tidak ada yang sebelumnya membayangkan Kota Limboto memiliki arena Road Race yang menjadi kiblat bagi pecinta motor di Sulawesi, Rumah Sakit Boliyohuto, Pusat Konservasi Budaya di Talumelito, Ruang Terbuka Hijau (RTH) Isimu Raya yang sebelumnya nampak kumuh, kini tengah dibangun Taman Hijau Isimu Raya, pembangunan Mahyani yang mencapai 10 ribu unit terbesar di Provinsi Gorontalo selama kurun waktu hampir 5 tahun yang dipersembahkan Pemerintah Kab. Gorontalo merupakan bukti keberpihakan terhadap rakyat yang kurang mampu. Demikian pula dengan visi Pemerintahan Nelson untuk masa depan Kab. Gorontalo yang telah mencanangkan rintisan pembangunan Pelabuhan Bilato yang nantinya diharapkan menjadi kawasan pertumbuhan baru di bagian selatan Gorontalo.

Juga prestasi PIALA ADIPURA yang beberapa tahun absen dan mampu direbut kembali oleh Pemerintahan Nelson, predikat Desa Sangat Tertinggal yang sebelumnya mencapai angka 57 desa dan sekarang sudah tidak ada lagi desa kategori sangat tertinggal serta prestasi demi prestasi lainnya, merupakan sebuah capaian yang sangat progresif dan patut diapreiasi bahkan menjadi sebuah kebanggaan yang menjadi spirit bersama untuk menaruh optimisme masa depan Kab. Gorontalo yang kian lebih gemilang lagi.

Tentu sebagai Kepala Daerah, Nelson Pomalingo memiliki seberkas konsep, kiat dan strategi dalam menjalankan roda pemerintahan yang patut menjadi rujukan dan layak menjadi referensi bagi siapapun dalam mengemban kepemimpinan di masa-masa mendatang. Salah satu sisi kelebihan Nelson Pomalingo adalah konsepnya yang mampu menjalankan roda pemerintahan yang berbasis partisipatif dan kolaboratif. Artinya, Nelson semata-mata tidak mengandalkan dana APBD untuk membangun, tapi melakukan terobosan-terobosan kerjasama yang kolaboratif dengan pihak lain. Sebagai gambaran, untuk mewujudkan programnya menjadikan Limboto sebagai Kota Kreatif, Nelson Pomalingo menjalin kemitraan dengan ICCI dari Amerika Serikat. Begitu pula untuk program pelestarian Danau Limboto, Nelson menggandeng kerjasama global dengan Jepang, Jerman dan Belanda. Tidak heran jika sejak tahun 2019 Danau Limboto telah ditetapkan sebagai GEOPARK dunia, yakni menjadi salah satu Danau yang diprioritaskan untuk mendapatkan penanganan yang serius secara global seperti Danau lainnya di seluruh dunia. Dengan statusnya yang masuk sebagai Geopark maka Danau Limboto menjadi lokasi penelitian dan riset dari para akademisi dan pemerhati lingkungan dari seluruh dunia.

Salah satu sisi kelebihan Nelson dalam memimpin Kab. Gorontalo adalah upayanya yang mampu menghadirkan kepemimpinan dengan dua dimensi yang prospektif, yakni mengatasi kondisi ekstrem di masyarakat dan menata masa depan. Sebagai gambaran, Pemerintah Kab. Gorontalo selama pemerintahannya tetap memperhatikan dan mengucurkan bantuan bagi korban bencana banjir, tapi di sisi yang lain, Pemerintahannya juga membangun Saluran Air, melakukan penghijauan, melakukan gerakan menanam pohon di daerah hulu agar banjir tidak lagi melanda kawasan itu di masa-masa yang akan datang.

Konsep pembangunan pemerintahan Nelson di Kab. Gorontalo dapat dilihat dari semangatnya yang membangun Kab. Gorontalo dengan 3 pilar peradaban yakni, agama, budaya dan pendidikan yang melandasi setiap program dan kebijakannya. Dalam menjalankan programnya Nelson juga mencanangkan pembangunan berbasis kependudukan.

Satu hal lagi, dalam menjalankan roda pemerintahanya, Nelson nampak memiliki semangat yang tinggi melawan “Tirani Urgensi”, yakni meniadakan program-program yang tidak urgen dengan kepentingan masyarakat melainkan mengutamakan dan memprioritaskan program yang sangat urgen bagi masyarakat. Contohnya dalam program pembangunan dan perbaikan jalan, Nelson lebih memprioritaskan pembangunan jalan menuju ke akses-akses pertanian yang selama puluhan tahun tidak diperhatikan oleh pemerintah. Tidak heran jika Nelson lebih memprioritaskan pembangunan dan perbaikan jalan di kawasan Dulamayo Telaga Biru, kawasan Boliyohuto dan Aspraga, di kawasan Kec. Tibawa di Olobua, Batudaa Pantai dan kawasan strategis lainnya. Tahun 2018 misalnya, Nelson mengucurkan anggaran pembangunan jalan di Dulamayo sekitar 14 milyar, Boliyohuto Cs sebanyak 82 milyar dan tahun 2020, Nelson mengucurjkan anggaran pembangunan jalan di Desa Olobua Tibawa yang selama Indonesia merdeka tidak pernah tersentuh kebijakan pembangunan jalan.

Masih banyak lagi, dimensi-dimensi lainnya yang menjadi sisi kelebihan Pemerintahan Kab. Gorontalo di era pemerintahan Nelson yang menggambarkan, betapa pembangunan harus dijalankan atas dasar obyektifitas, rasionalitas dan disertai visi bagi masa depan, bukan pembangunan yang didasarkan semata-mata pada kepentingan politik dan pencitraan yang berlebihan. Neslon lebih memprioritaskan pembangunan bagi masa depan Kab. Gorontalo ketimbang hanya sekadar “menyenangkan hati” rakyat yang justru tidak mendidik. Nelson memang berbeda, ia pemimpin yang berlatar belakang akademisi yang lebih mengutamakan rasionalitas, obyektifitas dan sisi idealis dalam membangun, bukan politisi tulen yang terkadang lebih mengutamakan “citra” daripada membangun dan menata masa depan.

 

Penulis : Ali Mobiliu