Oleh : Ali Mobiliu

Diakui atau tidak diakui, fakta berbicara bahwa di era Pemerintahan Nelson yang sangat singkat, yakni baru kurang lebih 4 tahun, Kab. Gorontalo sudah mengalami perubahan yang cukup signifikan. Meski diakui masih banyak aspirasi masyarakat yang belum sepenuhnya terealisasi, namun satu hal yang menjadi catatan penting adalah, Kab. Gorontalo termasuk daerah di Provinsi Gorontalo yang berkembang pesat, dinamis, progresif dan sarat dengan prestasi. Indikator dari semua itu tersaji dengan sangat jelas dan terukur.

Pertanyaannya, mengapa di era Pemerintahan Nelson Kab. Gorontalo berkembang pesat?, terhadap pertanyaan ini, begitu banyak sudut pandang yang menjadi jawabannya. Anatara lain yang dapat disebut adalah, terletak pada performance kepemimpinan Nelson yang mampu memberi ruang yang seluas-luasnya kepada aparatur di Pemerintahan untuk berekspresi, berkreasi dan berinovasi. Selain itu, Bupati Nelson menempatkan aparatur, terutama pejabat eselon II dan III berdasarkan pada profesionalisme dan kinerja aparatur, tanpa ada tendensi apapun apalagi dendam. Aspek penentu selanjutnya terletak pada semangat kerja Nelson yang demikian tinggi seakan tanpa kenal lelah.

Menurut kesaksian beberapa petugas Satpol yang shift di rumah Dinas misalnya, jika di era sebelum Nelson, Rumah Dinas sudah tutup dan tidak melayani tamu lagi jam 10 malam, tidak demikian di era Nelson, yakni Bupati terkadang menerima tamu maupun membahas masalah pembangunan tidak mengenal waktu dan jam kerja, yakni hingga larut malam bahkan tidak jarang sampai pada pukul 3 dinihari. Dalam penilaian aparaturnya, baru kali ini mereka mendapatkan pemimpin yang begitu lincah, cekatan, gesit dengan intensitas kerja yang demikian tinggi seakan tanpa kenal lelah.

Faktor lainnya yang menjadi penunjang, adalah terkait dengan konsistensi”, yakni Pemerintahan Nelson fokus dan konsisten pada capaian RPJMD yang menjadi indikator keberhasilan Pemerintahan. Tidak heran jika tahun 2018 saja, dimana periode Pemerintahan Nelson baru sekitar 3 tahun atau 60 persen masa jabatannya, justru capaian RPJMD sudah mencapai 82 persen. Artinya, Nelson mengemban amanah dengan speed yang diluar kebiasaan.

Yang tidak kalah menariknya adalah, dalam membangun daerah, Bupati Nelson tidak mengandalkan APBD semata, melainkan memberi penguatan melalui konsep pembangunan “kolaboratif” dan partisipatif. Sebutlah misalnya, Bupati Nelson selama ini menggandeng Perbankan dalam memberi penguatan terhadap program pertanian dan peternakan serta menggalang dengan lembaga-lembaga di tingkat regional, nasional dan internasional.

Selain itu, arah pembangunan yang dijalankan Bupati Prof. Nelson sudah berada di jalur yang benar, melalui upayanya yang mampu merancang konsep dengan 3 pilar pembangunan di dalamnya, yakni Agama, Pendidikan dan budaya. Ketiga instrumen itu, turut memberi andil dan spirit dalam mewujudkan pembangunan yang berbasis pada nilai-nilai yang mampu merangsang daya nalar, naluri dan nurani aparatur dan pemerintahan yang progresif.

%d blogger menyukai ini: