Pranala.co.id (Ulasan) – Indonesia adalah negara dengan masyarakat yang majemuk dan terkenal dengan negara yang kaya akan keberagamannya. Terdiri dari berbagai macam suku, budaya, agama, ras dan etnis yang tersebar di berbagai penjuru wilayah Indonesia.

Peradaban membentuk masyarakat Indonesia sehingga memiliki keunikan masing-masing dalam setiap kebudayaan yang dimilikinya. Hal demikian tidak bisa dilepaskan dari tradisi yang mengakar dan adat kebiasaan yang masih terpelihara.

Salah satu suku yang masih kental dengan budaya dan tradisi yang dimilikinya adalah suku Bugis. Terdapat banyak tradisi-tradisi yang masih terjaga sampai sekarang. Termasuk di dalamnya adalah ritual-ritual, seperti ritual pindah rumah, ritual setelah panen, ritual kematian, dan lain sebagainya.

Tradisi bagi suku bugis merupakan khazanah lokal yang menjadi ciri khas daerah yang menjadi pembeda dengan daerah lainnya. Hal itu dikarenakan orang-orang Bugis memang memiliki banyak prinsip hidup. Di antaranya, saling menghargai (sipakatau), saling menyayangi (siamasei), dan menjaga hubungan kekeluargaan (assiajingeng).

Prinsip-prinsip tersebut sesuai dengan ajaran agama Islam yang telah diimani sejak abad 16. Kemudian dipraktekkan dalam bertutur kata/ berkomunikasi dan bermasyarakat. Prinsip-prinsip tersebut termaktub dalam aturan adat yang disebut pangadereng.

Tradisi lokal masyarakat Bugis yang terus dilestarikan hingga sampai saat ini diantaranya ritual kematian. Ritual kematian tersebut dinamai dengan Makkuluhuwallah. Rangkaian acaranya secara khusus dilaksanakan selama tujuh malam, terhitung setelah dikuburkannya jenazah. Di dalam rangkaian itu, terdapat beberapa prosesi seperti khataman Al-Qur’an, Takziah, Makkulluhuwallah, Mabaca-baca Matellu na Mapitu Esso, dan Mattampung. Adapun pengistilahan “ritual kematian”. kearifan lokal yang masih dipraktekkan oleh masyarakat suku Bugis yang melibatkan pembacaan Al-Qur’an di dalamnya. Masyarakat setempat menyebutnya sebagai tradisi .

Tradisi Makkuluhuwallah adalah salah satu tradisi yang dilaksanakan dengan membaca ayat – ayat Al-Quran seperti surah Al-Ikhlas, hal ini dilaksanakan oleh seluruh keluarga serta tetangga yang ditinggalkan oleh almarhum ataupun almarhumah, instrument yang digunakan salah satunya ialah batu berwarna. Setiap orang diberikan 1 mangkok jagung atau batu – batu kecil yang akan di hamburkan nanti dikubuan orang yang meninggal tersenut. Perjagung dibacakan surah al-ikhlas hingga selesai seluruh jagung yang berada di mangkok tersebut.

Sanak saudara yang melangsungkan tradisi Makkulluwallah dalam ritual kematian suku bugis. Foto : RT.

Menurut informasi yang berhasil dirangkum dari masyarakat di Desa Pananrang Kecamatan Mattirobulu Kabupaten Pinrang, Ritual Makkuluhuwallah dilakukan dalam jangka waktu tujuh hari, waktu tertentu biasanya malam hari setelah salat Isya. Bersamaan dengan itu juga dilakukan pembacaan Al-Qur’an/mengaji yang diperuntukkan kepada jenazah dengan berkali-kali khataman. Pada prakteknya untuk mengaji biasanya di hari pertama mengundang khusus anak-anak pondok. Selebihnya setiap malam, pembacaan Al-Qur’an dilanjutkan oleh masyarakat yang datang meramaikan rumah keluarga yang berduka.

Penamaan ritual Makkuluhuwallah, diambil dari ayat pertama surat al-Ikhlas (Qul Huwallahu) imbuhan “ma” merupakan bagian dari bahasa Bugis kemudian disambungkan dengan Qul Huwallāhu, yang menunjukkan arti sedang melakukan yakni pembacaan surat al-Ikhlās.

Surah Al-Ikhlas menjadi surah pilihan saat melangsungkan ritual tersebut, karena memiliki keistimewaan dan faḍilah tersendiri, sehingga menjadi surat pilihan. terdapat  alasan kuat pemilihan surat tersebut dari sudut pandang teks agama (Al- Qur’an dan Hadis), karena  surah al- ikhlas lebih hidup ditengah masyarakat yang dipercaya memang ketika membacakan surah ini pada setiap orang berduka maka yang meninggal akan dibukakan jalan menuju sang ilahi.

Tidak hanya orang tua, anak – anak pun dianjurkan dalam melangsungkan tradisi ini.

 Hal ini juga dilakukan karena memang di penjuru masyarakat bugis masi ada tersisah kepercayaan leluhur yang dihgunakan pada masa – masa sebelumnya walupun akhir ini sudah mulai banyak yang tidak memahami sejarah leluhurnya sehingga hal itu mulai terdegradsi.

Menariknya dalam tradisi ini, setiap orang yang telah melaksanakan pembacaan surah tersebut diberikan berupa bingkisan maupun “Amplop” sebagai ucapan terimakasih atas kehadiran dan keikhlasannya menyempatkan waktu, tidak hanya masyarakat yang dating namun juga bingkisan tersebut diberikan kepada sanak saudara yang juga mengikuti prosesi ritual tersebut.

Menurut catatan sejarah Islam masuk pertama kali dan telah menjadi agama resmi di daerah di Sulawesi Selatan, pada tahun 1602 atau 1603. Dibawa oleh guru agama yang berasal dari Minangkabau ketika kerajaan Goa dipimpin oleh Karaeng Tonigallo. Namun jauh sebelumnya telah ada orang Islam berdiam di Goa sejak tahun 1540.

Untuk itu segala hal yang erat kaitannya dengan praktek yang ada di dalam masyarakat, tidak terpisahkan dengan kepercayaan yang mereka yakini. Baik  secara langsung maupun secara tidak langsung dari kepercayaan sebelumnya. Demikian halnya dengan ritual-ritual yang sering mereka lakukan seperti ritual kematian.  Ritual kematian yang sering mereka lakukan terdiri dari beberapa rangkaian yang secara khusus dilaksanakan selama tujuh hari.

Ritual Makkuluhuwallah merupakan salah satu rangkaian dari ritual kematian. Akar sejarah dari ritual Makkuluhuwallah tidak diketahui secara pasti. Namun diperkirakan muncul sekitar tahun 80-an yang diprakarsai oleh tokoh agama setempat.

Suatu masyarakat pasti memiliki alasan dalam melakukan tindakan maupun perbuatan. Begitu juga dengan masyarakat Bugis dalam menyikapi tradisi yang dimilikinya. Sebagai contohnya adalah tradisi

Makkuluhuwallah yang menerapkan pembacaan surat al-Ikhlas. Pembacaan tersebut menjadi sebuah keharusan dalam menjalankan prosesi pelaksanaannya. tentu ada alasan kuat dibalik digunakannya surah tersebut.