Pranala.co.id – Musyawarah Besar ke 5 Forum Pecinta Alam Gorontalo (Mubes FPAG) terus berlanjut  hingga malam hari, hal ini ditandai dengan saling adu argumentasi antara para peserta forum, hingga beberapa saat dilangsungkan pembahasan, terus mengalami pending.

Informasi yang berhasil dihimpun pranala, dari 200 database Organisasi pecinta alam di Gorontalo beberapa diantaranya hadir dan mendelegasikan 3 perwakilan tiap organisasinya.

Menariknya sebagai wadah pemersatu pecinta  alam di Gorontalo, Perhelatan mubes FPAG itu semakin malam nampak semakin sengit hingga beberapa calon diantaranya mencuat ke permukaan, diantaranya Ronal Tuliabu dan Mohammad Ramli Paputungan.

Dalam pandangan Ramli Paputungan atau yang akrab disapa uyong mengatakan, FPAG adalah organisasi yang meurutnya bagus sebagai wadah pemersatu ide dan gagasan para pecinta alam dan Kommunitas pecinta alam yang ada di Gorontalo, karena melihat kondisi saat ini masih terbilang banyak pecinta alam yang terpecah – pecah hingga berkubu. Padahal jika kita melihat kilas balik FPAG ini seogianya sebagai payungnya para generasi pecinta alam di Gorontalo.

Sebagai organisasi yang lahir sejak februari 2012, Uyong menganggap FPAG lahir tidk serta merta hadir sebagai wadah silaturahmi belaka melainkan sebagai instrument dalam hal pengkajian – pengkajian isu terhadap lingkungan, semisalkan kerusakan – kerusakan gunung dan hutan yang mengakibatkan terjadiya beberapa bencana di Gorontalo semisalkan banjir dan tanah longsor.

“ terdapat sebuah penyesalan dalam diri saya secara pribadi yang lahir di pecinta alam di Gorontalo,  terkait hal – hal serupa, sebenarnya kerusakan – kerusakan gunung dan hutan ini menjadi tugas dan tanggung jawab sejak mereke lahir, dan itu pun bisa dijadikan sebagai program kerjasama yang dipusatkan di secretariat FPAG nanti dalam merespon isu – isu lingkungan yang ada di Gorontalo. Jika kita sadar dan kembali ke diri kita serta menanggalkan ego sentries tentu kita akan mampu menghilangkan yang kecil dan mengecilkan yang besar dalam hal ini persoalan – persoalan Lingkungan yang terjadi dan menjadi isu hangat di Gorontalo.” Terang Uyong.

Menurutnya  FPAG kedepan harus bersatu serta menanggalkan ego senioritas untuk menjadi terdepan dalam merespon isu- isu lingkungan yang ada di Provinsi Gorontalo, sejauh ini dalam pandangannya, kebanyakan kegegalan ketua sebelumnya adalah tidak mau bersinergi dengan Pemerintah Daerah, padahal dengan sinergi tersebut maka FPAG menjadi salah satu oragnisasi yang akan menjadi pembanding terkait dengan pengkajian – pengkajian terhadap analisis dampak lingkungan jika pemerintah dalam hal ini akan melangsungkan pembangunan – pembangunan yang nantinya apakah ini akan merusak lingkungan atau tidak.

“Misi saya kedepan sebagai figure yang digadang – gadang untuk maju tentunya tidak lepas dari mempersatukan para pecinta alam yang ada di provinsi gorontalo dari segi ide, gagasan serta gerakan, dn merangsang untuk teman – teman KPA agar bisa memiliki legalitas yang jelas karena jika dilihat dari mahasiswa pecinta alam mereka memiliki legalitas dari Rektorat kampus serta pejabat kapus lainnya, sehingganya kedepan jika saya menjadi nahkoda di FPAG tentu bsear harapan saya untuk membantu mereka dalam hal lahirnya keabsahan yang ada di kabupaten/kota supaya tidak lahir sembarangan namun memiliki legalitas yang jelas untuk mewujudkan peran serta peinta alam di Gorontalo.

Sementara itu di tempat yang berbeda Ronal Taliabu yang juga mengajukan dirinya sebagai Calon Ketua FPAG mengatakan seluruh pecinta alam di Gorontalo mulai dari Sispala, Mapala, Komunitas Pecinta Alam, tentu semua masih satu visi bicara persoalan lingkungan, dalam menanggapi berbagai persoalan lingkungan semuanya terus terlibat dan mengambil peran serta.

Lanjutnya, Kolaborasi pecinta alam sejauh ini berlangsung bagus, FPAG menjadi wadah dalam berkolabirasi dengan berbagai pecinta alam lainnya yang berada di luar daerah Gorontalo dalam mengambil peran untuk membantu para korban bencana, semisalkan Bencana Sulawesi Tengah (Palu).

Menurut Ronal masih terlalu banyak yang harus dibenahi didalam tubuh FPAG semisalkan merespon isu – isu lingkungan yang lagi hangat diperbincangkan diberbagai kalangan terkait dengan Banjir dan Longsor yang pernah terjadi di Beberapa Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Gorontalo, hal ini tentu menjadi persoalan klasik yang seharusnya FPAG hadir untuk memberikan solusi atas hal tersebut. sehingga persoalan bencana yang lahir atas kerusakan lingkungan tersebut tidak lagi terjadi yang dimana banyak merugikan rakyat.

“Kita ketahui bencana tidak diminta- minta hanya saja Bencana terkadang terjadi atas ulah manusia itu sendiri sehingga saya memiliki Visi dan Misi kedepan FPAG harus menjadi prmotor dalam meminimalisir masalah bencana alam yang beberapa bulan kemarin Gorontalo sering mengalaminya. Sementara untuk bersinergi dengan Pemerintah terkait hal ini tentu saya harus membicarakan ini bersama pecint alam lainya namun hal ini pun jika seay terpilih kedepan.”Ungkapnya.

 

%d blogger menyukai ini: