Oleh : Fory Armin Naway
Ketua TP-PKK Kab. Gorontalo dan Dosen FIP UNG

Hujan yang mengguyur Gorontalo, Minggu malam (1/3) lalu dan berlanjut hingga Senin (2/3), meski hanya beberapa jam lamanya telah menyebabkan beberapa kawasan di Gorontalo mengalami banjir dan tanah longsor. Di Kabupaten Gorontalo, kawasan yang paling parah dialami oleh warga di Kecamatan Boliyohuto dan sekitarnya. Di wilayah Kab. Gorontalo Utara terdapat 2 kecamatan yang cukup parah, yakni Kecamatan Anggrek, Monano dan daerah sekitarnya. Di wilayah Kota Gorontalo terdapat beberapa titik yang tergenang air sehingga menghambat aktifitas warga. Bukan hanya di Gorontalo, di Kota metropolitan Jakarta, Bogor dan kawasan Jabodetabek dan di Pulau Jawa, Sulawesi dan pulau-pulau launya di Indonesia dalam beberapa hari terakhir ini juga dilanda banjir yang cukup parah.

Tidak hanya sekarang, musibah banjir menjadi fenomena dan polemik yang terus-menerus menguras energi dan tenaga, bahkan memakan korban jiwa dan itu berlangsung setiap tahun. Musibah banjir seakan menjadi rutinitas setiap tahun ketika musim penghujan tiba.

Pertanyaannya sekarang, apakah musibah banjir hanya disebabkan oleh curah hujan yang cukup tinggi?, tentu jawabannya tidak semudah itu. Hujan adalah anugerah, rahmat dan berkah bagi makhluk di muka bumi. Siapapun sepakat, hujan adalah fenomena alam yang menjadi Sunatullah yang membawa berkah dalam menjaga kelangsungan hidup, makhluk apapun di muka bumi.

Oleh karena itu, musibah banjir, tanah longsor dan genangan air yang mengganggu kenyamanan dan aktifitas warga, bahkan menelan korban jiwa dan kerugian materi yang tak terhitung jumlahnya yang terjadi setiap tahun, menjadi fenomena yang sejatinya membangunkan kesadaran kolektif kita, merangsang nurani kita untuk melakukan intorpeksi selanjutnya membangunkan semangat, komitmen dan tekad kita untuk bersama-sama menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan hidup.

Musibah banjir yang melanda daerah manapun, bukanlah momentum untuk saling menyalahkan. Pemerintah sebagai pengambil kebijakan, memang selama ini selalu menuai kritik, kecamatan dan bahkan hujatan. Hal itu juga bukanlah sesuatu yang tabu. Kritik dapat dipandang sebagai sumbangsih pemikiran dalam rangka mengingatkan pemerintah untuk menaruh perhatian pada penanganan persoalan banjir beserta solusi penyelesaiannya. Targetnya agar ke depan, persoalan banjir tidak lagi menjadi momok yang meresahkan dan memilukan warga.

Dalam konteks ini, terdapat 3 aspek penanganan persoalan banjir, yakni Pertama, pencegahan (preventive). Kedua, penanganan saat terjadinya banjir (Response/Intervention) dan Ketiga, pemulihan setelah terjadinya banjir (recovery). Dari keseluruhan aspek ini, partispasi masyarakat menjadi sangat urgen dan menentukan. Partisipasi masyarakat merupakan proses teknis untuk memberi kesempatan kepada stakeholder untuk memecahkan berbagai persoalan banjir secara bersama-sama.

Bagaimanapun juga, penyebab utama musibah banjir secara umum lebih dipicu oleh perubahan dan eskalasi perilaku manusia dalam mengubah fungsi lingkungan. Di kawasan budidaya misalnya, telah terjadi perubahan tata ruang secara masif. Akibatnya, daya dukung lingkungan menurun drastis. Pesatnya pertumbuhan atau perkembangan pemukiman, apalagi pemukiman kumuh dan kawasan industri yang tidak mengindahkan aspek lingkungan telah menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan fungsi lingkungan. Bahkan kawasan retensi banjir yang disediakan alam, berupa situ-situ telah berubah fungsi yang menyebabkan eksostem lingkungan menjadi berubah.

Kondisi ini membawa dampak menurunnya kapasitas penyerapan air secara drastis. Hal ini diperparah lagi oleh sistem drainase pemukiman warga yang kurang memadai. Kalaupun memadai, namun saluran drainase banyak yang penuh dengan sampah-sampah rumah tangga dan jenis sampah lainnya yang menyebabkan sistem drainase menjadi tersumbat. Hal itu menyebabkan genangan air di mana-mana ketika musim penghujang tiba.

Itulah sebabnya, musibah banjir merupakan bagian penting dari pembelajaran kepada siapapun, betapa menjaga kebersihan lingkungan, menjaga kelestarian alam merupakan hal yang mutlak dibutuhkan. Paling tidak, dengan terjadinya musibah banjir, kita menjadi disiplin dan patuh terhadap ketentuan untuk tidak membuang sampah sembarangan, apalagi membuang sampah di aliran sungai, selokan dan di saluran-saluran air. Jika upaya ini dapat dilakukan secara kolektif, maka musibah banjir dan genangan air dapat diminimalisir.

Meski demikian, dalam penanganan persoalan banjir kali ini, Pemerintah Kabupaten Gorontalo, bersyukur memainkan peran penting. Salah satunya merespon dengan cepat melakukan penanganan terhadap warga yang terdampak musibah banjir. Hal ini diperkuat oleh gerak cepat TP-PKK Kab. Gorontalo yang segera memberikan bantuan dan makanan siap saji kepada warga yang terkena musibah banjir.

Lebih jauh dari itu, tentu kepedulian kita, kebersamaan dan budaya “mohuyula” untuk membantu mereka yang menjadi korban banjir sangat penting untuk dihidupkan kembali selain ke depan kita akan bersama-sama dengan pemerintah melakukan berbagai tindakan antisipatif agar bencana banjir yang melanda kawasan Boliyohuto kali ini tidak akan terulang lagi di masa-masa mendatang.

Atas nama Pemerintah dan jajaran pengurus TP-PKK Kabupaten Gorontalo saya menyampaikan prihatin, turut berduka atas musibah banjir kali ini, semoga warga masyarakat yang terdampak dapat diberikan kesabaran, ketabahan seraya bermunajat Kehadirat Allah SWT, semoga ke depan kita dijauhkan dari segala bencana dan malapetaka. Aamiin (***)