Pranala.co.id – Pandemi Covid -19 tidak hanya berdampak terhadap kehidupan masyarakat pada umumnya, tapi juga sangat dirasakan dampaknya oleh mereka kaum Transgender atau transpuan maupun yang akrab disebut kaum “Waria”.

Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, itulah nasib yang menimpa mereka. Tidak hanya dikucilkan, dianggap sebelah mata, bahkan menjadi bahan guyonan dan cibiran, kaum waria juga menghadapi tantangan dan kendala hidup yang semakin terpuruk.

Jika kelompok masyarakat lain di era pandemi Covid-19 , mendapatkan uluran tangan pemerintah dan masih mereguk bantuan sosial lainnya, namun tidak demikian dengan kaum Transgender, mereka seakan tercampakkan, termarginalkan dan tidak dianggap di lingkungan keluarga mereka dan di lingkungan sekitarnya. Kemanapun mereka pergi, selalu saja dipandang sebelah mata, dicibir, dicemooh dan diikuti oleh tawa yang seakan penuh ejekan. Itulah nasib kaum transgender.

Jika selama ini sebagain besar diantara mereka menggeluti pekerjaan tata rias kecantikan, gunting rambut dan lain sebagainya untuk mengais rezeki demi mempertahankan hidup, maka di era Pandemi covid-19 ini, sumber pendapatan mereka anjlok sehingga tidak bisa lagi diandalkan untuk meraup penghasilan yang memadai.

Di sisi yang lain, akses mereka untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah seakan tertutup oleh image yang terlanjur melekat. Mereka tidak didengar, dicampakkan dan apapun yang menimpa mereka hanya seakan menjadi bahan cibiran, tertawaan dan candaan di tengah masyarakat. Padahal dibalik itu, mereka juga adalah manusia ciptaan Tuhan, mereka punya rasa, punya hati seperti orang normal pada umumnya, mereka juga memiliki kebutuhan dan naluri untuk bertahan hidup.

Di era Pandemi Covid-19 ini, adakah bantuan khusus untuk mereka?, organisasi manakah yang menyuarakan dan memperjuangkan nasib mereka?. Semua itu tidak pernah terdengar. Lantas di manakah nurani kita? Di mana rasa syukur kita dianugerahi nikmat sebagai orang normal yang penuh percaya diri?.

Susan, salah seorang transpuan yang hidup di tengah hiruk pikuk perkotaan di Kota Gorontalo sangat layak menjadi contoh, betapa angkuh dan bebalnya rasa kemanusiaan kita di era Pandemi Covid-19 ini. Di tengah keterpurukan ekonomi, Susan hanya bisa hidup dari “belas kasihan” dari orang-orang terdekatnya yang tidak seberapa untuk sekadar makan. Usaha tata riasnya sepi pengunjung, bantuan dari pemerintah tidak pernah menyapanya, akses untuk mendapatkan pekerjaan di perusahaan dan kantor tertutup rapat, melakoni pekerjaan “ngamen” pun ogah ia lakukan, karena sudah pasti hanya cibiran, cemooohan dan tertawaan yang akan ia dapatkan dan dicap sebagai “sampah” masyarakat.

“Saya pernah disarankan untuk mengurus administrasi agar mendapatkan bantuan tunai maupun non tunai dari Pemerintah, namun semakin kesininya saya dipersulit dalam pelayanan, harus bolak balik dan tetek-bengek lainnya. Ya..sudahlah daripada harus dipersulit seperti itu, lebih baik bertahan bekerja di salon, meski sepi pengunjung” tuturnya pasrah, sembari berujar dapat bantuan pemerintah syukur, tidak dapat juga tidak apa-apa.

Jangankan bantuan sembako, bantuan berupa masker, kondom dan handsanitiser atau faceshield saja tidak pernai ia terima. Disisi yang lain, ia mengeluhkan pemberitaan tentang virus begitu dibesar-besarkan yang membuat masyarakat dan pelanggan salonnya semakin berkurang. “jangan menambah – nambah penyakit, kalau memang hanya covid yaa covid, yang terpenting kita mematuhi protokol kesehatan” tuturnya.

Keberpihakan pemerintah terhadap kaum transgender sangat penting dan ditunggu-tunggu, karena populasi kaum ini terbilang cukup banyak.

Menurut Ketua Binthe Pelangi (Komunitas Transpuan), Melki S Mbuti, jumlah Waria yang terdaftar di komunitasnya di Gorontalo saat ini mencapai angka 640 orang. Jumlah tersebut belum termasuk yang tidak pernah terdaftar atau belum menjadi anggota. Dari 640 waria yang terdaftar tersebut, sekitar 20 persen menutup sementara usahanya dan 4 persen diantaranya ada yang tidak bisa melanjutkan lagi usahanya.

Itu belum termasuk para pekerja yang harus kehilangan mata pencahariannya di bidang jasa dekorasi pengantin, tatarias, pembuat rambut palsu, dan lainnya. Apalagi saat pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), umumnya teman – teman waria harus memutar otak (beralih profesi) sebagai pedagang kue dan lainnya untuk kehidupan. Tragisnya lagi, keseluruhan Waria di Gorontalo tidak ada satu pun yang mendapatkan bantuan dari pemerintah.

“Dari teman-teman waria sendiri, tidak ada satupun yang mendapatkan bantuan dari pemerintah hingga saat ini, baik di Kota Gorntalo hingga ke Kabupaten- Kabupaten lain di Gorontalo” jelasnya.

Menurut Melki, negara nun jauh di sana, yakni Negari Belanda yang justru tergugah membantu kaum Waria di Gorontalo, meski jumlah penerimanya terbatas.

” Alhamdulillah melalui usaha yang diprakarsai oleh Binthe Pelangi, akhirnya kita mendapatakan bantuan dari Belanda, itupun yang dibantu hanya sekitar 40 orang saja, tinggal diseleksi siapa yang benar – benar membutuhkan akibat terdampak oleh covid ini” ungkapnya lagi.

Saat ini menurut Melky, komunitas Binthe Pelangi tengah merampungkan laporan lagi ke Belanda. Jika menurut mereka laporannya bagus, maka mereka akan kembali mendapakan bantuan lagi

Sementara itu, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Gorontalo, Irawan Huntuyungo mengatakan, Penularan covid, hadir melalui saluran nafas, semakin meningkat aktivitas setiap orang yang tidak memperhatikan protokol kesehatan lebih beresiko untuk terinveksi covid-19. Menurutnya, bagi mereka yang bekerja di salon dan jarang memperhatikan protkes pasti akan sangat muda terinveksi oleh covid.

Untuk itu, Ketua IDI mengatakan, bagi mereka yang bekerja di salon agar dapat mensterilkan kembali alat – alat yang digunakan, dan ini perlu diperhatikan komponen kebersihan, sehingga mencegah penyakit lainnya, semisalkan TBC dan lainnya.

%d blogger menyukai ini: