Pranala.co.id (Limboto) – Tradisi masyarakat jawa tondano (Jaton) yang akrab dikenal dengan lebaran ketupat, kerap menjadi hari yang spesial setelah perayaan lebaran idulfitri, momentum ketupat identik dengan masyarakat Jawa.

Tradisi lebaran ketupat tentunya menjadi salah satu moment yang cukup menarik dan penting bagi sebagian besar umat Islam khusunya di Indonesia. Apalagi di daerah yang memang memiliki tradisi tersebut setiap tahunnya pada hari raya Idul fitri.

Perayaan ketupat tentu sangat dirindukan seluruh masyarakat di indonesia, tak jarang para masyarakat setiap pelaksanaan moment tersebut sering mengiringinya dengan berbagai lomba diantaranya, Karapan sapi, Pacuan kuda, Panjat pinang dan lainnya, hal tersebut sebagai pengisi acara dan menjadi wadah silaturahmi antara masyarakat jaton dan lainnya, namun perayaan tahun ini kerap berbeda dengan tahun – tahun sebelumnya.

Pasalnya, perayaan lebaran ketupat secara besar – besaran tahun ini ditiadakan dalam rangka demi menekan laju penyebaran virus corona (Covid-19), masyarakat diimbau untuk membatasi pergerakannya dan melaksanakan lebaran tersebut secara sederhana .
Kekhawatiran pemerintah, jika perayaan lebaran ketupat berjalan seperti tradisi selama ini, berpotensi meniingkatkan penyebaran virus tersebut.

Dalam menjaga tradisi tersebut di Gorontalo, serta menjaga masyarakat untuk terhindar dari penyebaran covid-19, Pemerintah kabupaten Gorontalo mengeluarkan edaran, tentang aturan pelaksanaan perayaan ketupat disetiap desa dan kelurahan.

Bupati Gorontalo mengatakan,aturan dalam tradisi perayaan ketupat disetiap desa dan kelurahan, tentunya diharapkan dilakukan hanya secara terbatas diruang lingkup keluarga masing – masing dan tidak melayani masyarakat datang bertamu, juga tidak melaksanakan festival atau lomba lainnya yang mengundang kerumunan, serta untuk pelaksanaan doa mengawali ketupat, dapat dilaksanakan dimesjid secara sederhana dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan.