Pranala.co.id (Limboto) – Bupati Gorontalo Nelson Pomalingo menyebut, walaupun ditengah pandemi Covid-19, eksport tetap berjalan, berarti produktifitas masyarakat bagus.

Sehingga dirinya berharap ekport seperti ini terus jalan agar supaya harga terjamin, bersaing dan masyarakat terus bersemangat terutama petani.

Hal ini disampaikan Bupati Gorontalo Nelson Pomalingo, saat dijumpai usai mendampingi Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala BAPENAS, Dr. (H.C) Ir. H. Suharso Manoarfa, saat menghadiri kegiatan pelepasan eksport jagung, di pelabuhan anggrek kabupaten gorut, Sabtu ( 15/06/2020).

Ia pun berharap, para exportir tidak sekedar mengambil barang tapi bagaimana mendorong masyarakat bisa menanam dengan lebih baik, salah satunya bibit dan sebagainya.

Seementara itu, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Suharso Monoarfa, mengungkapkan akan mendorong pengembangan program korporasi untuk para petani di Gorontalo.

“Gorontalo akan menjadi salah satu piloting untuk program korporasi petani. Program ini merupakan permintaan dari Presiden RI, dan kami yang mendesainnya dengan tujuan nilai tukar petani khususnya petani jagung akan meningkat,” Tutur Suharso dalam sambutannya.

Suharso menyampaikan rasa bangga dan bergembira, produksi jagung di Gorontalo meningkat dengan pesat.

“Mudah-mudahan bisa mencapai target 2 juta ton, sesuai target Gubernur Gorontalo,” Harap Suharso lagi.

Untuk diketahui, Selang Januari hingga Agustus 2020, Provinsi Gorontalo telah empat kali mengekspor jagung ke Filipina dengan total ekspor sebanyak 30.400 ton senilai Rp125,5 miliar.

Ekspor perdana pada 9 Juni 2020 sebanyak 6.100 ton senilai Rp24,7 miliar, disusul ekspor kedua pada 17 Juni 2020 sebanyak 6.300 ton dengan nilai Rp25,9 miliar. Ekspor ketiga dilakukan pada Juli 2020 sebanyak 6.100 ton senilai Rp24,8 miliar.

Ekspor jagung untuk keempat kalinya pada tahun 2020 yang dilepas oleh Menteri PPN/Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa, sebanyak 12.000 ton dengan nilai mencapai Rp49,9 miliar. Sedangkan untuk tetes tebu sebanyak 11.700 ton, dengan nilai sebesar Rp31,2 miliar.

“Mudah-mudahan selain dengan ekspor yang sifatnya komuditas ini, bisa dikembangkan dengan ekspor hasil pertanian lainnya atau industri yang berbasis pertanian di Gorontalo, saya kira gorontalo akan menjadi salah satu wilayah yang dapat di andalkan mengatasi defisit secara nasional,” Tandasnya.