Pranala.co.id (Jakarta) – Isu kenaikan cukai rokok selalu menjadi bahan perdebatan panas setiap tahunnya di Indonesia. Per November 2020, jelang pengumuman kenaikan harga cukai rokok oleh Kementerian Keuangan RI, isu tersebut bergulir semakin panas. (5/11/2020)

Industri secara aktif melobi pemerintah agar tidak menaikkan atau bahkan menaikkan secara terbatas cukai rokok. Industri berkilah penjualan rokok mengalami penurunan signfikan selama masa Pandemi Covid 19. Padahal studi menunjukkan bahwa konsumsi rokok masyarakat tetap meningkat di masa Pandemi COVID-19.

Koalisi Nasional Masyarakat Sipil untuk Pengendalian Tembakau yang terdiri dari Rumah Mediasi Indonesia, Indonesia Institute for Social Development, Center of Human and Economic Development ITB Ahmad Dahlan, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Raya Indonesia, Smoke free Jakarta, Tobacco Control, Support Center IAKMI bersepakat bahwa pemerintah Indonesia tidak perlu ragu untuk menaikkan cukai rokok setinggitingginya!

Dukungan kenaikan cukai rokok ini mendapat apresiasi dan dukungan dari masyarakat Indonesia yang saat ini tembus 1.272 orang kemungkinan akan terus bertambah sampai adanya pengesahan kenaikan cukai rokok, dukungan ini melalui Petisi https://www.change.org/p/jokowi-perokok-anak-terus-meningkat-pakjokowi-tolong-naikkan-cukai-rokok-setinggi-mungkin, dan hasil petisi ini juga sudah disampaikan oleh Koalisi Nasional Masyarakat Sipil untuk Pengendalian Tembakau kepada Bapak Presiden RI melalui surat No. 4/KonasMSPT/RMI/2/XI/2020 pertanggal 3 November 2020 perihal Dukungan Kenaikan Cukai Rokok 2020 Semaksimal Mungkin dengan tembusan kepada beberapa kementerian terkait.

Direktur Raya Indonesia Hary Chariansyah, S.H., M.H. mengatakan, Dalam hal perlindungan anak terhadap zat adiktif rokok harus ada upaya bersama dengan masyarakat agar negara juga ikut hadir. Saat ini Kementerian Keuangan sedang membahas rencana kenaikan cukai rokok dalam RAPBN 2021. Namun kementerian keuangan dan pemerintah masih mempertimbangkan kebijakan tersebut.

Perlu di ingat Pemerintah wajib hadir memberikan kepastian hukum sesuai dengan aturan dan regulasi. Raya Indonesia mendorong Kementerian Keuangan agar menaikkan harga eceran rokok dengan setingitingginya . Dengan memaksimalkan regulasi hukum, aturan dan Undang-undang maka negara akan mendapatkan inkam cukai rokok sesuai target yang di inginkan”
Mukhaer Pakanna, Rektor ITB Ahamad Dahlan juga menyampaikan dukungannya terhadap kenaikan cukai rokok.

“Kami sangat mendukung kenaikan cukai rokok minimal 25%, kurva permintaan harga adalah inelastic yang berarti jika memang ingin menurunkan tingkat prevalensi remaja atau anak dalam merokok maka harus di naikkan tarif yang signifikan jangan sampai pemerintah menaikkan tarif hanya seperti menabur garam di lautan yang tidak memberi efek yang signifikan, kalkulasi kami dengan kenaikan tarif sebesar 25% itu bisa menurunkan jumlah perokok baik anak dan orang miskin, yang kedua alasannya ialah tepat saat ini sudah saatnya menaikkan tarif cukai rokok karena tiap tahun menurut roadmap ada kenaikan secara bertahap tarif cukai dan ini juga sesuai dengan kesepakatan kita dengan organisasi kesehatan dunia atau WHO dan Perpres RPJMN RI untuk tahun 2020 – 2024 untuk menaikkan cukai rokok.” Ungkap Mukhaer.

Artati Haris, Program Manager Tobacco Control, Indonesia Institute for Social Development juga mengatakan, Pemerintah seharusnya tidak ragu ragu dalam menaikkan cukai rokok, bukan saja untuk perlindungan pada kualitas kesehatan masyarakat khususnya anak anak,tetapi ini juga bagian dari mewujudkan visi misi Presiden yang telah tertuang dalam RPJMN 2020.

Ketua Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah Hafizh Syafaaturrahman mengatakan bahwa Peran RPJMN tentang menurunkan prefelensi perokok di tahun 2020-2024 salah satunya adalah komitmen dari Presiden terhadap pencegahan preventif untuk melindungi generasi pemuda. Karena rokok adalah salah satu pengeluaran ke dua dalam kebutuhan rumah tangga, maka dari itu dengan melarang rokok eceran serta menaikan harga rokok sekitar 20% atau dengan menaikan sampai 50 ribu rupiah bisa menekan agar rokok tidak mudah di akses oleh anak dan keluarga, jika harga rokok tidak dapat di jangkau maka pengeluaran kebutuhan rumah tangga itu juga akan berkurang, dan sangat bermanfaat pada situasi pandemic sekarang.

Terakhir, Ifdhal Kasim, Koordinator Nasional Masyarakat Sipil Untuk Pengendalian Tembakau mengatakan, Pemerintah tidak perlu ragu untuk menaikkan cukai rokok setinggi mungkin. Masyarakat sipil sangat mendukung kenaikan cukai rokok, hal ini bisa dilihat dari 1000 lebih masyarakat telah menandatangani petisi terkait lewat kanal change.org.

“Antusiasme ini menunjukkan bahwa masyarakat pun mengamini harga rokok di pasara masih terlalu murah. Petisi dukungan tersebut telah kami sampaikan langsung kepada Presiden Jokowi.” Jelas Ifdhal Kasim, Koordinator Nasional Masyarakat Sipil Untuk Pengendalian Tembakau.

Demikianlah siaran pers ini kami sampaikan, dan untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi sdr. Hery Chariansyah, SH., MH., di nomor HP: 0812 9459 1981 Koalisi Nasional Masyarakat Sipil untuk Pengendalian Tembakau adalah Koalisi yang terdiri dari beberapa organisasi masyarakat sipil yang peduli terhadap perlindungan anak dan generasi yang akan datang dari bahaya produk Tembakau.

Koalisi Ini terdiri dari YLBHI, RMI, HRWG, ICW, Raya Indonesia,IISD, MPKU PP Muhammadiyah, IPM, NA, Pemuda Muhammadiyah, IMM, Smoke Free Jakarta dan TCSC IAKMI