Pranala.co.id (Limboto) – Sebagai ibukota Kab. Gorontalo merupakan “Wulalo”nya Kab. Gorontalo. atau menjadi cermin dan barometernya pranata kehidupan masyarakat Gorontalo. Dari sinilah semangat Prof. Nelson hingga terus menata dan membenahi Kota Limboto menjadi “magnet” baru Gorontalo.

Bahkan, Limboto tidak hanya menjadi “Wulalonya” masyarakat Kab. Gorontalo, tapi juga bagi masyarakat Gorontalo secara keseluruhan. Karena secara administratif pemerintahan, mulai dari Orde lama, orde baru dan era reformasi Kab. Gorontalo merupakan “orang tua” yang telah melahirkan 5 daerah di Provinsi Gorontalo. Bila diibaratkan sebagai sebuah keluarga, Kab. Gorontalo merupakan “Lipu Lo Mongodula’a” (Orang tua) yang telah melahirkan 5 daerah “Lipu Lo Bantda” bahkan sudah memiliki cucu sebagai “Lipu Lo Wombu”.

Dalam sejarahnya, Kab. Gorontalo terbentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 29 tahun 1959 seiring pembentukan Kabupaten Dati II di Sulawesi pada zaman orde lama. Selanjutnya tahun 1960 dari rahim Kab. Dati II Gorontalo, lahirlah Kotapraja Gorontalo (Kota Gorontalo sekarang) dengan walikota pertamanya mendiang (alm) H. Taki Niode. Pada 1999 Kab. Gorontalo melahirkan Kab. Boalemo. Pada 2003 kembali melahirkan Kab. Bone Bolango dan empat tahun kemudian (2007) melahirkan Kab. Gorontalo Utara. Adapun Kab. Pohuwato karena terlahir dari rahim Kab. Boalemo tahun 2003, maka ia boleh disebut sebagai “Wombu” (Cucu) atau “Lipu Lo Wombu”.

Dari sejarahnya inilah, Prof. Nelson tengah merintis dan menempatkan Kab. Gorontalo sebagai “Mongodula’a”, yang mampu menopang, menginspirasi dan menebar keteladanan kepada anak-anak dan cucu-cucunya. Prof. Nelson nampaknya menyadari bahwa Kab. Gorontalo sebagai yang “tertua”, bukan berarti telah “rapuh dan sepuh” melainkan tetap tangguh dan perkasa. Dari sinilah semangat Prof. Nelson dalam membangun itu terus terpateri. Yakni selain merespon harapan dan aspirasi masyarakat Kab. Gorontalo, juga menebar inspirasi dan keteladanan untuk daerah-daerah lain di Gorontalo sebagai “anak kandung” yang terlahir dari rahim Kab. Gorontalo

Yang penting, daerah-daerah lain di Gorontalo, tidak menjadi seperti “anak durhaka” yang melupakan orang tuanya, melainkan tetap hormati dan belajar dari “Mongodula’a”. Artinya, Daerah lain di Gorontalo tidak perlu sungkan untuk bersilaturahmi, bertanya dan belajar di Kab. Gorontalo. Toh juga, Bupati Kab. Gorontalo saat ini bukan sekadar “Mongodula’a, tapi kebetulan juga seorang guru, guru besar yang tentu layak menjadi tempat bertanya dan berguru. Semoga.

 

(Penulis : Ali MobiliU)