Pranala.co.id – Komunitasi pecinta sastra dan literasi (Konspirasi) langsungkan kegiatan dialog interaktif dalam memperingati Women’s day bertempat di pelataran Universitas Ichsan Gorontalo. (8/3/2021).

Refleksi womens day tersebut di gagas oleh beberapa elemen mahasiswa dilingkungan Universitas Ichsan Gorontalo. Diantaraya, HMP-IK, BEM Hukum, Mapala Zigring, Lembaga Pers Mahasiswa Ichsan (LPMI), dan Konspirasi.

Kegiatan itu dihadiri oleh mahasiswa lingkungan Kampus serta paguyuban – paguyuban (Organisasi Kedaerahan), Hadir pula 2 Narasumber yang juga sebagai Kepala Prodi Fakultas hukum dan Prodi Ilmu Komunikasi, Kegiatan tersebut dalam pantauan awak media, tetap mengedepankan protokol kesehatan guna memutus mata rantai covid-19.

Karmila Musa selaku Ketua Panitia dalam sambutanya mengatakan, Kegiatan Women’s Day ini dilaksanakan bertujuan untuk merayakan pencapaian ekonomi, budaya, social dan politik terhadap perjuangan perempuan. Hari Perempuan Internasional itu adalah para aktivis perempuan mencoba memperlihatkan pencapain perempuan dari berbagai bidang. Artinya bahwa perjuangan kaum perempuan sudah terlihat dalam beberapa bidang tersebut.

Kegiatan ini dilangsungkan juga sebagai pemantik gerakan pperempuan di Gorontalo yang dimana kuota dalam parlemen semisalkan,Kehadiran perempuan masih terhitung kurang yang terjun ke dunia politik, tak hanya itu, dalam menagmbil keputusan saja perempuan ternyata belum diberikan ruang.

Lanjutnya,Jika menilik sejarah, dimana Perempuan lahir setara dengan laki – laki sehingga tidak ada satu alas an yang mampu membedakannya kecuali jenis kelamin, sehingga kemajuan sebuah Negara tidak hanya terletak pada perjuangan kaum lelaki melainkan kontribusi Perempuan sejauh ini tentunya sangat nyata dalam memperjuangkan arah jalannya sebuah Negara tersebut.

“kita bisa sama- sama ingat, perjuangan perempuan tailan yang memiih mati dijalan perjuangan, ia terlahir sebagai seorang anak tunggal yang diharapkan orang tuanya kelak menjadi sosok mandiri. Perempuan yang dikenal sebagai pejuang hak rakyat itu uniknya sebelum dirinya mempersiapkan untuk turun kejalan, di tanda pengenalnya dituliskan “Jika saya terluka dan tak dapat kembali ke kondisi yang baik tolong jangan selamatkan saya, saya akan memberikan bagian tubuh saya yang berguna bagi orang yag mebutuhkannya” sekiranya seprti itu keunikan dan keberanian perempuan asal Myanmar yang berjuang untuk rakyatnya, sehingganya melaui Refleksi Women’s Day ini, kembalikan kepercayaan dan keberanian perempuan untuk berjuang bersama dalam menjaga kekritisan sebagai penerus bangsa.” Tuturnya.

Zakaria selaku Presiden BEM Universitas Ichsan Gorontalo mengatakan, Women’s Day Internasional ini merupakan kegiatan yang menurut beberapa elemen organisasi mahasiswa yang tergabung didalmnya, hal ini merupakan sebuah kegiatan penting untuk dilaksanakan.

“Kita ketika meilik sejarah lebih jauh, sekitar 859 Masehi, terdapat salah seorang perempuan lahir kepermukaaan membuktikan bahwa, perempuan tidak ada didalam satu konsekuensi budaya patriarki, sejauh ini perempuan dilihat sebagai manusia kelas dua atau sebagai kelas domestic yang tugasnya hanya di dapur, di sumur dan dikasur,sehingganya perempuan itu bernama Fatimah al-Fihria kemudian mendirikan sebuah universitas yang kita kenal sebagai Universitas pertama dengan nama  Al-Qarawiyyin di Maroko di Kota Fez, awal mula tumbuh kembangnya kampus bermula di Universitas tersebut, universitas ini telah menghasilkan banyak sarjana yang sudah sangat banyak mempengaruhi sejarah intelektual dan akademik dunia muslim dan yahudi.” Jelasnya.

Lanjutnya, Sejarah mencatat bahwa Universitas yang didirikan oleh Fatimah tercatat dalam sejarah sebagai Universitas tertua di Dunia yang digagas oleh seorang perempuan. Jauh semkin kesini , kondisi kita, dalam hal ini perempuan seolah – olah masih dibawah konsekuensi patriarki contoh Negara ini adalah Negara Demokrasi tetapi di parlemen, Perempuan hanya diberikan kesempatan 30 persen dibandingkan laki – laki, dan laki – laki dalam pemaksaannya menghegemoni wacana. Sehingga momentum ini perlu dilaksanakan guna memantik perempuan muda dilingkungan kampus untuk semangat dalam memperjuangkan hak – haknya.

 

%d blogger menyukai ini: