Pranala.co.id  (Opini) – Mungkin ada diantara masyarakat yang bertanya-tanya, mengapa setiap organisasi dan institusi yang pernah dipimpin oleh seorang Nelson, selalu saja, maju, dinamis dan berkembang. Jawabannya singkat, yakni Deklarator Provinsi Gorontalo itu mampu membaca momentum.

Momentum dalam pengertiannya adalah, kemampuan mendayagunakan peluang dan kesempatan yang tersedia dengan sebaik-baiknya. Momentum adalah sajian ruang dan waktu yang sebenarnya dimiliki oleh siapapun. Kehidupan adalah sajian waktu yang juga disebut sebagai momentum.

Menjadi berarti atau tidak ruang dan waktu yang dimiliki, sangat bergantung pada spirit yang dimiliki oleh seseorang, apakah mau atau tidak memanfaatkan momentum itu dengan baik.

Kemampuan membaca momentum itu, salah satunya, dapat menjadi spirit yang memiliki daya dorong, daya dobrak untuk menggali segala potensi yang ada untuk sebuah niat, tekad, obsesi dan cita-cita.

Itulah sebabnya, orang yang mampu membaca momentum dalam perspektif masyarakat Gorontalo sejak dulu, dikategorikan sebagai “Ta’ Mo’ulindtapo”, yakni tampil cerdas memainkan peran penting dan menentukan dalam kerangka memanfaatkan peluang dan kesempatan waktu yang tersaji.

Kemampuan membaca momentum itulah, yang selama ini menjadi kunci rahasia terhadap kiprah Nelson Pomalingo hingga mampu mengukir prestasi dan kinerja yang bersejarah. Saat euforia reformasi 1998-1999 misalnya, Nelson Pomalingo yang baru saja menyelesaikan gelar Doktornya, mampu membaca momentum, sehingga tampil memimpin perjuangan terbentuknya Provinsi Gorontalo.

Artinya, Ketika para tokoh lain ketika itu masih diam di tengah arus gerakan euforia reformasi, justru Nelson menangkap euforia reformasi itu sebagai sebuah momentum yang tepat untuk mewujudkan keinginan masyarakat Gorontalo berpisah dengan Provinsi Sulawesi Utara.

Tanpa berpikir panjang, saat itu pula Nelson tampil cerdas, hingga mampu menyatukan seluruh komponen melalui Pressidium Nasional (Presnas) Pembentukan Provinsi Gorontalo, berjuang bersama-sama menggalang kekuatan rakyat dan seluruh aktifis Gorontalo mewujudkan terbentuknya Provinsi Gorontalo hingga sekarang ini dinikmati oleh 1.3 juta rakyat Gorontalo.

Saat menjadi Kepala BAPPEDA pertama Provinsi Gorontalo, saat menjadi Rektor IKIP Negeri Gorontalo, saat menjadi Rektor Universitas Negeri Gorontalo dan ketika ia diberi amanah memimpin beberapa organisasi di daerah ini, jika dirunut dan direfleksikan kembali, Nelson ternyata mampu menjadikan setiap organisasi dan institusi yang dipimpinnya tampil dinamis dan prospektif.

Tidak perlu jauh-jauh, saat didaulat menjadi Rektor Universitas Muhammadiyah Gorontalo tahun 2012 misalnya, Prof. Nelson memandang hal itu sebagai sebuah momentum yang tepat untuk berbuat yang terbaik. Di era kepemimpinnnya, kampus UMG mengalami lompatan kemajuan, jumlah mahasiswa yang sebelumnya hanya 800 orang melonjak menjadi 6 ribu mahasiswa, Dosen yang hanya sekitar 20-30 orang meningkat menjadi ratusan orang, demikian juga dengan pembangunan infrastrukturnya, gedung perkuliahan yang representatif, gedung perpustakaan, laboratorium, rintisan Gedung Rektorat, fasilitas olahraga dan masih banyak lagi.

Bahkan aula yang representatif yang mampu menampung lebih dari 500 orang, mampu ia wariskan untuk kampus pencerahan ini. Yang lebih menarik lagi, nama David Bobihoe Akib diabadikan sebagai nama aula, yakni Aula David Bobihoe Akib yang juga dapat menajdi bukti, betapa Nelson sangat menaruh hormat pada ketokohan mantan Bupati 2 periode yang bergelar adat (Pulanga) Ta’uwa Lo Lahuwa itu.

Demikian pula saat memimpin organisasi PGRI, Nelson mampu mewujudkan organisasi PGRI yang dinamis. Salah satu karya monumental dari seorang Nelson untruk PGRI ketika itu adalah, keuletannya yang mampu menyatukan guru dalam semangat solidaritas, solid yang sarat dengan nuansa kebersamaan, hingga berdiri GEDUNG PERJUANGAN GURU yang kini tampil megah 2 lantai dan berdiri di atas lahan sekitar 4 ribu meter. Gedung tersebut dilengkapi dengan aula, ruang perkantoran, kamar penginapan guru dan sebuah Mesjid yang cukup representatif.

Lagi-lagi yang menarik, Bupati Nelson mengabadikan nama tokoh guru, politisi dan pengusaha sukses Gorontalo, Ahmad Hoesa Pakaya sebagai nama aula, yakni Aula Guru Amma. Hal itu lagi-lagi menjadi bukti, betapa Nelson menaruh hormat terhadap mantan Bupati Gorontalo periode 2000-2005 itu.

Kini, saat dipercaya menjadi Bupati Gorontalo sejak tahun 2016, salah satu rahasia keberhasilan pemerintahan Nelson adalah, kejeliannya yang mampu membaca momentum.

Artinya, menjadi Bupati bagi Nelson adalah sebuah momentum yang tepat baginya untuk berbuat dan mempersembahkan yang terbaik bagi masa depan Kab. Gorontalo. Tidak heran pula, jika di era kepemimpinannya, Kab. Gorontalo mengalami lompatan-lompatan kemajuan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh siapapun.

Kapasitasnya yang mampu melakukan perubahan dan arah baru di Kab. Gorontalo, kemampuan pemerintahannya yang mampu meningkatkan investasi dari yang sebelumnya Rp. 150 milyar meningkat menjadi Rp. 1.8 trilyun, keberpihaknnya kepada wong cilik dengan mempersembahkan 10 ribu unit Mahyani, memecahkan rekor yang terbesar di Provinsi Gorontalo, dan deretan karya-karya progresif lainnya, adalah deretan contoh kecil, betapa Nelson mampu memanfaatkan momentum kepercayaan rakyat yang diamanahkan di pundaknya dengan sangat baik nan elegan. (Ali MobiliU)