Pranala.co.id (Gorontalo) –  Disiang itu tampak langit begitu  gelap dan suara hujan yang menggemuruh seakan merobohkan rumah para warga di Kelurahan Bugis, Kota Gorontalo

Disiang itu hujan turun begitu deras dan angin berhembus sangat kencang dan baru reda hingga sampai pukul 17.30 WITA,

Keesokaan harinya, (25/7/2020) luapan air menggenangi kampung kecil yang dijuluki kampung pedagang tersebut hingga ketinggian mencapai 1 meter lebih. Sejumlah 524 Korban banjir di kelurahan Bugis, Kecamatan Dumbo segera diungsikan dibeberapa posko yang disediakan oleh pihak Pemerintah kota, diantaranya di SDN 46, SDN 38, Kantor pertanahan, dan Kesdim 1304.

Kelurahan yang terletak di hilir sungai bone, merupakan kelurahan yang mata pencaharian penduduknya kebanyakan berdagang yakni pedagang ikan, pedagang buah, serta sebagai pengemudi becak motor dan lain-lain. Semua kegiatan yang biasanya terjadi terliahat lumpuh dikarenakan banjir yang melanda kampung kecil itu.

Tidak ada yang dapat dilakukan oleh warga kampung bugis selain menunggu surutnya banjir yang menggenangi hingga kedalam rumah, banjir terjadi dikarenakan meluapnya sunga bone sehingga menggenangi kampung yang memang dekat dengan sungai itu.

Warga pun tidak menaruh harapan banyak terhadap bantuan pangan oleh pemarintah, karena pemerintah juga saat ini menangani dampak covid-19 serta kebanyakan bantuan dialokasikan juga kepada masyarakat di Kota Masamba sehingga hal ini membuat masyarakat di kelurahan itu mengharapkan lebih banyak uluran tangan dari masyarakat Kota Gorontalo, banjir ini terjadi diakibatkan hujan dengan intensitas tinggi sehingga mengakibatkan meluapnya sungai bone hingga sampai kepemukiman warga.

Warga hanya mengharapkan pemerintah setempat untuk lebih responsive dan memikirkan solusi sehingga wilayah kampung bugis dan sekitrnya tidak mengalami hal serupa di tahun – tahun akan datang dan bisa beraktivitas sediakala.

Roni Widjaya usia 72 tahun Warga transmigran asal jawa timur yang telah tinggal selama 15 tahun di wilayah tersebut mengungkapkan, ia dan keluarganya kerap dilanda banjir atas meluapnya air dari sungai bone seketika hujan mengguyu kampong tersebut selama sehari.

“masyarakat kelurahan bugis tidak ada henti – hentinya untuk siap siaga ketika seharian hujan mengguyur beberapa kelurahan di Kecamatan dumbo raya tersebut, banjir terparah yang kami alamai beberapa kelurahan itu terhitung sejak tahun 2006, hingga terulang kembali di tahun 2020, di tahun ini, banjir sudah kali ke 4 melanda beberapa kelurahan ini.” Tutur Ayah 3 anak itu.

lebih lanjut dirinya Juga mengungkapkan masyarakat setempat sudah mulai jenuh melihat keadaan yang memang tidak pernah teratasi hingga mendapatkan solusi dari pemerintah terkait termasuk wakil rakyat yang duduk di bangku anggota legislative, kebanyakan bantuan dari pemerintah, lebih kepada menurunkan unsur dinas terkait termasuk unsur TNI guna membantu masyarakat yang terdampak.

“sebenarnya masyarakat setempat sangat berharap kepedulian pemerintah saat ini khususnya Walikota Gorontalo untuk dapat memikirkan solusi di wilayah tersebut, karena setiap banjir menerjang wilayah tersebut, sangat berdampak pada lumpuhnya ekonomi, jika dilihat saat ini sudah 5 persen saja perputaran ekonomi di beberapa wilayah ini bahkan hidup masyarakat setempat hanya pas – pasan saja, semisalkan pengarukan drainasi, serta meninggikan jalan yang berada dibeberapa kelurahan yang terus banjir tersebut. “ ungkapnya.

Aktivitas masyarakat ditengah banjir .

Lanjutnya, Banjir juga mengakibatkan warga kampung  tidak bisa melakukan kegiatan mereka sehari-harinya termasuk mengais rezeki untuk menghidupkan keluarga, Hal ini dikarenakan letak tempat mereka untuk berjualan hasil nelayannya tidak bisa digunakan akibat berada di sebelah sungai, warga yang menekuni pekerjaan sebagai nelayan itu, hingga saat ini tidak bisa menyeberangi sungai bone  karena arus yang cukup deras dan luas.

Memang Banjir bukanlah bencana yang baru dikenal manusia. Banjir telah terjadi sejak ribuan tahun yang lalu. Banjir mengiringi peradaban-peradaban besar yang ada di dunia, Banjir hasil luapan sungai-sungai besar yang membawa penghidupan bagi masyarakat pasca surut. Banjir membawa berbagai material yang menyuburkan lahan pertanian. Namun, banjir yang kita kenal saat ini tidak lagi sama, begitu dasyatnya banjir kali ini membawa kerugian warga.

Banjir datang membawa berbagai material yang menghancurkan, mulai dari kumpulan sampah hingga gelondongan-gelondongan kayu yang terbawa dari hilir sungai. Material-material ini akan menghantam apapun yang dilaluinya. Banjir bukan lagi sekadar siklus alami oleh alam, banjir yang ada saat ini terlebih pada faktor kegagalan dalam mengelola alam.

Sementara itu ditempat berbeda Usman usia 30 tahun, salah seorang warga Kampung Bugis itu mengungkapkan, untuk bantuan dikelurahan bugis ini pemerintah seharusnya juga memikirkan kelangsungan dari para balita termasuk anak- anak usia dini sangat memerlukan popok,

“kerja saya hanya sebagai pedagang aksesoris tentu dengan adanya musibah seperti ini sekiranya tidak tau hari – hari esok harus makan apa, jujur saja, uang yang tersisa sekarang hanya Rp. 50.000 untuk bertahan hidup selama banjir,

Lebih lanjut Usman mengungkapkan, Jujur saja saat Fadel Muhammad menjabat sebagai Gubernur Gorontalo, melihat banjir ini pihaknya sangat responsive memikirkan cara untuk menangani hal tersebut, semisalkan dirinya terus berupaya membangun kanal di perairan wilayah suwawa, Alhamdulillah kanal tersebut berjalan lancar.

“Melalui informasi – informasi dilaman media, dikabarkan sebab terjadinya banjir selain karena hujan dengan intensitas tinggi, juga terjadi karena ambruknya  salah satu tanggul di wilayah suwawa, saya berharap pemerintah saat ini segera memikirkan untuk memperbaiki tanggul tersebut sehingga bencana banjir di wilayah ini bisa segera terminimalisir, “ jelasnya.