Pranala.co.id (Limboto) – Momentum peringatan hari patriotik 23 januari 1942 digagas oleh presidium Nasional (Presnas) bertema melawan lupa, menjadi sebuah instrumen sebagai pengingatan kembali kepada seluruh pemerintah, dalam mewujudkan cita – cita dideklarasinya Provinsi Gorontalo yang telah memisahkan wilayah dari Sulawesi Utara (SULUT).

Melys Ali, Selaku Kepala Desa Tinelo Kecamatan Telaga mengatakan, hari patriotik tentunya sebagai momentum yang paling penting dalam sejarah, mengapa Provinsi Gorontalo tersebut di bentuk di lapangan GOR 23 januari.

“Pemisahan wilayah tentunya dilihat dari beberpa indikator, antaralain ; ada 3 kesenjangan yang dibangun, pertama ialah, akses pengurusan segala administrasi masyarakat masih berpusat di Sulut, kedua ialah persoalan pembangunan, dimana gorontalo tidak menjadi prioritas, karena masi tergabung dengang Sulut, sehingganya dengan adanya Pembentukan ini, menjadikan satu spirit baru masyarakat Gorontalo untuk melangkah lebih maju, mendapat sentuhan langsung dari pembentukan provinsi itu sendiri, hal itu menjadi harapan besar masyarakat di tahun kedepan, namun disampaikan bahwa, banyak kegiatan – kegiatan yang menurut mereka belum maksimal, semisalnya Provinsi ini masih tercatat urutan ke 5 termiskin diseluruh indonesia.” Tuturnya.

Lanjutnya, Hal ini menjadi upaya kedepan, agar keinginan Presidium Nasional (Presnas) untuk pembentukan Prov Gorontalo, tentu kedepannya pemerintah lebih serius dalam menekan angka kemiskinan, serta memprioritaskan Provinsi ini dalam melihat kondisi yang ada, 20 tahun deklarasi Provinsi tentunya gorontalo tidak lagi disebut sebagai daerah yang belum mapan, tetapi sudah mapan untuk menyelesaikan segala aspek aspek kebutuhan masyarakat.

“Seperti yang disampaikan sang deklarator Provinsi ini bahwa jangan sekali kita melupakan apa yang menjadi perjuangan masyarakat gorontalo dalam hal ini, melahirkan sebuah pemerintahan yang baik, menghapus kesenjangan dan yang terpenting bagaimana masyarakat tidak susah lagi mengurusi segala hal seperti pada saat masi bergabung dengan Sulut.” Tegas Melys Ali. Jumat (24/1)

Selaku Kepala Desa Tinelo, Melys menambahkan, cita – cita Presnas jika dilihat dari skala desa ada beberpa indikator yakni, sentuhan terkait pengawalan pemerintah ke desa sangat intens, hal ini ditinjau dari aspek kebutuhan masyarakat, banyak kebutuhan masyarakat yang disalurkan oleh Pemerintah Kabupaten untuk membangun sebuah desa yang lebih baik, semisalkan, Upaya – upaya yang difasilitasi pemerintah untuk masyarakat dalam hal ini mengurusi surat izin usaha, hal ini tentu dilihat kondisi yang ada.

“Tentunya peringatan momentum hari Patriotik ini sebagaimana cita – cita presnas sejak deklarasi tersebut yakni untuk mempermudah masyarakat dalam mengurusi segala administrasi yang memang sangat penting, sehingganya tema melawan lupa ini, tentunya sebagai instrumen untuk mengingatkan kembali kepada seluruh pemerintah untuk lebih responsif lagi terhadap kebutuhan masyarakat.” Tegasnya.

Sebagai mantan aktivis HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Melys Ali menambahkan, Mewujudkan impian Presnas melalui desa, tentunya anggaran desa yang dikucurkan akan lebih di fokuskan untuk menciptakan SDM yang unggul.

“Pemberdayaan dalam hal ini, memperhatikan kondisi akar rumput atau masyarakat paling bawah, semisalkan memberdayakan masyarakat sejak ia masi usia dini dengan memberikan mereka asupan gizi, nutrisi, imunisasi hingga mereka menduduki bangku perkuliahan, hal ini sangat perlu pemantauan pemerintah, sehingganya kecerdasan setiap masyarakat bisa tercapai secara maksimal sesui apa yang diharapkan untuk menuju masyarakat unggul dan sejahtera. Terlepas dari hal itu, tentunya pemerintah harus menyiapkan sarana fasilitas untuk mereka dalam mengembangkan kreativitasnya.” Tutur Melys.

Melys pun mengatakan, hal ini tentu harus difikirkan program dipemberdayaan berikutnya, “kita sering membicarakan pemberdayaan namun terkadang kitabtidak memperhatikan terkait dengan hasil generasi untuk selanjutnya, dirancangan program berikutnya, khusunya posyandu saya akan memberikan paket kepada masyarakat yang memiliki anak diusia dini, dalam hal ini asupan nutrisi sehingganya untuk anak yang kurang gisi bisa semakin berkurang.” Tutup melys.