Oleh :

Fory Armin Naway
Guru Besar FIP UNG dan Ketua ICMI Kab. Gorontalo

Pranala.co.id-Bersahabatlah dengan diri sendiri sebelum bersahabat dengan orang lain. Sebab bersahabat dengan diri merupakan babak awal menjadi pribadi yang baik dan asyik. Bersahabat dengan diri dapat memantulkan cahaya yang menjadi perekat dalam menjalin persahabatan dengan orang lain. Bersahabat dengan diri dengan begitu, menjadi fondasi dan dasar fundamental menjadi pribadi yang insanul kamil.

Sahabat berbeda dengan teman. Dalam pengertiannya, sahabat adalah orang yang selalu merasakan suka duka yang di alami oleh seorang sahabatnya. Sedangkan teman adalah orang yang hanya dikenal begitu saja, sering bertemu, bertatap muka, sering terlibat obrolan dan lain sebagainya, sehingga lama-kelamaan menjadi teman.

Dengan begitu, bersahabat dengan diri jauh lebih urgen, ketimbang berteman dengan diri. Bersahabat dengan diri, berarti dapat dimaknai menerima segala kekurangan, kemudian mengasahanya menjadi sebuah potensi, juga mengakui segala kelebihan diri dan selalu bersyukur dalam suka dan duka.

Selain itu, bersahabat dengan diri berarti selalu jujur dan apa adanya, mengatakan yang benar itu adalah benar dan salah itu adalah salah. Bersahabat dengan diri berarti pula, terbiasa bersikap baik dan selalu tulus dan ikkhlas yang disertai oleh sikap tawakal.

Dalam perkembangannya, jika sudah bersahabat dengan diri sendiri akan mudah menjadi sahabat bagi orang lain. Hal itu terjadi karena, diri sudah ditempa dengan kebiasaan untuk selalu berpikir positif, berjiwa besar dan segala bentuk tindak-taduknya didasarkan pada nilai-nilai universal yang bertumpu pada hati nurani.

Bersahabat dengan diri sendiri dengan demikian, menjadi sarana menuju keparipurnaan sebagai pribadi yang menyenangkan. Yakni menjadi insan yang mampu menerima kekurangan orang lain dan mengakui kehebatan orang lain dengan jiwa yang besar. Demikian juga, dengan bersahabat dengan diri akan menuntun kita menjadi pribadi yang jujur, memiliki niat yang tulus, tidak memiliki tendensi dan selalu mendukung serta mensuport orang lain menjadi sukses dalam hidupnya. Bersahabat dengan diri paling tidak akan mengeliminir sifat : senang melihat orang susah dan susah melihat orang senang”.

Lebih jauh lagi dapat dimaknai, bersahabat dengan diri memiliki implikasi sosial yang mampu melahirkan semangat kebersamaan, tidak saling menjatuhkan dan setiap orang akan berlomba-lomba dalam kebaikan dan mencegah perbuatan munkar.

Tidak hanya itu saja, jika setiap orang mampu bersahabat dengan diri sendiri, maka segala bentuk penyakit hati seperti iri hati, dengki, ambisi dan fitnah-memfitnah tidak akan merebak di tengah masyarakat.

Itu artinya, semangat untuk bersahabat dengan diri, tidak semata-mata untuk kebaikan diri agar tumbuh menjadi pribadi yang progresif, tapi lebih dari itu, bersahabat dengan diri akan memantulkan cahaya bagi orang lain, menjadi sumber inspirasi bagi siapapun untuk berbuat baik. Dari aspek inilah urgensi pentingnya menumbuhkan semangat agar setiap pribadi dapat bersahabat dengan diri secara konsisten.

Dalam perspektif yang lain, bersahabat dengan diri, tidak hanya membawa implikasi positif dalam menjalin interaksi dengan orang lain, tapi juga dapat memberikan penguatan terhadap kemampuan dan kapasitas diri yang kelak memiliki daya juang yang tinggi dalam meningkatkan profesionalisme dan kompetensi diri. Sebab bersahabat dengan diri, salah satunya tercakup di dalamnya, adalah bersahabat dengan kekurangan diri. Bersahabat dengan kekurangan, bukan meratapi nasib dan menganggap bahwa apa yang terjadi menjadi suratan takdir.

Menurut Komarudin Hidayat dalam bukunya berjudul “Psikologi Kebahagiaan”, nasib setiap orang ternyata tidak selalu merupakan garis takdir yang sudah tidak bisa diubah. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan dalam Al Qur’an yang artinya, Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, jika kaum itu tidak mau mengubahnya. Itu artinya, manusia diberikan ruang untuk merancang jalan hidup sesuai cita-cita dan obsesi hidupnya. Dalam konteks ini, setiap orang dapat berikhtiar melalui kerja keras, memperbaiki performance diri dan meningkatkan kualitas dan kapasitas diri, termasuk bersahabat dengan diri tentunya.

Berdasarkan hal itu, maka setiap orang berhak untuk bahagia, sepanjang kebahagiaan itu, tidak merusak dan mengusik kebahagiaan orang lain. Dalam situasi yang demikian, berpikir positif dan bersyukur atas apa yang diraih dan dimiliki merupakan sebuah keniscayaan. Manifestasi dari rasa syukur adalah, lagi-lagi mengakui dengan jujur kekurangan diri dan mengakui kelebihan orang lain. Mengakui kekurangan diri menjadi instrumen penting dalam mendorong seseorang untuk introspeksi diri, memperbaiki kualitas diri dengan terus belajar.

Sebenarnya dalam tataran logika, menjadi orang baik dan bahagia itu tidak sulit dan tidak mahal. Justru yang mahal harganya untuk ditebus itu, adalah menjadi paranoia ekstrim yang selalu menganggap diri hebat, menganggap diri yang selalu benar dan orang lain selalu salah. Faktor-faktor itulah yang menjadi pemicu awal munculnya kesombongan diri yang menjadi sumber penyakit dan malapetaka di kemudian hari.

Oleh sebab itu, satu hal yang dapat dimaknai, adalah bersahabat dengan diri akan melahirkan kelembutan hati, dapat mengarahkan setiap orang menjadi pribadi yang selalu tampil sejuk, mawas diri dan mampu mengendalikan diri sehingga tetap berada dalam koridor yang santun, memperhatikan lelaku serta tatakrama yang sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.

Oleh karena itu, momentum akhir tahun dan memasuki tahun baru 2023 ini, menjadi saat yang tepat bagi kita, untuk membebaskan diri dari jeratan “penyakit hati”akut, terkungkung oleh egoisme dan paranoia ekstrim yang pada akhirnya membuat kita semakin terjerembab dalam kenistaan. Sesungguhnya orang yang beruntung adalah mereka yang senantiasa menyerukan amar ma’ruf nahyi Munkar yang menyampaikan secercah kebaikan untuk diri dan orang lain, bukan untuk menebar kebathilan. Itulah pentingnya bersahabat dengan diri, yakni titian jalan menuju kualitas insaniah yang menjunjung tinggi kemanusiaan yang harmoni. Semoga (**”).

%d blogger menyukai ini: