Pranala.co.id-Menjelang Hari Raya Ketupat masyarakat sekitar Pertigaan bundaran tugu ketupat, yosonegoro (kampung jawa) di kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo, sudah mulai berjualan nasi bulu (nasi didalam bambu) dan dodol yang kemasannya menggunakan daun woka, jumat (4/4/2025).
Menurut sejarah, perayaan Lebaran Ketupat di Gorontalo pertama kali digelar oleh masyarakat keturunan Jawa-Tondano (Jaton) sejak kedatangan mereka pada tahun 1909.
Kemudian juga, masyarakat tersebut adalah transmigran dari Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara yang pada saat itu tersebar di Desa Kaliyoso, Roksonegoro, Mulyonegoro, dan Yosonegoro, Kabupaten Gorontalo.
Melalui pantauan awak media, perayaan Hari Raya Ketupat ini, selalu diselenggarakan satu minggu setelah perayaan Hari Raya Idul Fitri.
Salah satu penjual Bambu tinggal di Desa Dinaa Hasan Lalebo (34) mengatakan, bahwa menjual bambu ini sudah dari dua hari yang lalu, dan kami menjual bambu ini satu ujung harganya Rp.10.000,-(Sepuluh Ribu Rupiah), untuk daun Woka ada berjumlah 100 dengan harga Rp.3.000 (Tiga Ribu Rupiah), dan untuk keduanya diambil di hutan.
” kita jual bambu untuk nasi bulu (nasi didalam bambu), untuk daun Woka itu menjadi pembungkus Dodol, dan kita jualan setiap tahun menjelang Hari Raya Ketupat,” ungkapnya.
Hasan Lalebo juga menambahkan, bahwa ini sudah menjadi tradisi di Gorontalo, sementara bambu yang di jual pada hari ini sudah sekitar 900 batang yang sudah laku, dan untuk daun woka sudah laku sekitar 75 tinggal 25 lagi.
” jadi masyarakat yang ingin merayakan Hari Raya Ketupat, segera membeli bambu dan daun Woka di perempatan tugu Ketupat Desa Yosonegoro,” pungkasnya.
Pewarta: Agung Nugraha
