Pranala.co.id-Kabupaten Gorut Meski termasuk sekolah swasta dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, namun Madrasah Aliyah (MA) Miftahul Huda Kwandang Kab. Gorontalo Utara, mampu menunjukkan eksistensinya sebagai institusi pendidikan yang berprestasi.

Sejak resmi berdiri tahun 2010 lalu di Desa Leboto Kwandang, Madrasah yang masuk kurang lebih 1 kilometer dari jalan raya Kwandang ini,berhasil meraih berbagai prestasi yang membanggakan, baik di tingkat Kabupaten, Provinsi dan di tingkat nasional.

Yang paling teranyar, Madrasah yang memiliki santri sebanyak 93 orang pada tahun 2022 ini, mampu mengharumkan nama Gorontalo di tingkat nasional, dengan memboyong 4 medali sekaligus pada Olimpiade Sains (OSN) tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Jenius Competition di Jakarta.

Namun dibalik prestasi demi prestasi gemilang yang ditorehkan, tidak berbanding lurus dengan perhatian yang diberikan oleh pemerintah sebagai pengambil kebijakan.

Sepintas melihat kondisi Madrasah beserta hak-hak siswa untuk memperoleh layanan pendidikan berkualitas yang terabaikan, membawa kesan yang mendalam, betapa guru dan siswa di Madrasah ini seakan belum “merasakan” arti kemerdekaan yang sesungguhnya, di tengah kemeriahan dan gegap gempita menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI.

Foto Istimewa

Madrasah ini seakan tak terjamah oleh sentuhan nurani mereka yang berwenang dan memiliki kuasa untuk menorehkan tanda tangan saktinya.

Jangankan Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten, Pemerintah Desa Leboto Kwandang yang berdekatan saja, belum juga berhasil memediasi dan memenuhi keinginan warga Madrasah yang sudah bertahun-tahun bermohon untuk pembebasan lahan bagi jalan masuk ke Madrasah ini.

Akibatnya, selama bertahun-tahun itu pula, untuk masuk ke area Madrasah, para siswa dan guru harus melewati pekarangan rumah warga yang kondisinya cukup memprihatinkan, karena bila hujan mengguyur, para siswa harus melepas sepatu karena tergenang dan berbecek.

Tidak hanya itu, gedung Madrasah yang selama ini dibangun dengan susah payah dan tertatih-tatih, saat ini justru terancam akan ambruk, karena abrasi sungai yang melintasi tepat di belakang sekolah.

“Tinggal sekitar 2 meter jarak bangunan sekolah dengan tebing sungai yang jika dibiarkan berlarut -larut, sebagian gedung sekolah ini akan ambruk” lirih Kepala Madrasah Rusmin Panggato, M.Pd dengan raut wajah sedih.

Kesedihan dan kekhawatiran Guru dan para santri ini semakin menjadi, karena laporan dan keluhan mereka ke Balai Sungai dan Dinas terkait lainnya, untuk segera membangun Talud penahan tebing, tak kunjung datang, kendati diakui pihak Balai sudah beberapa kali melakukan peninjauan lokasi, tapi hingga saat ini tidak terdengar lagi kabarnya. Sementara disisi lain, tebing sungai terus mengalami abrasi yang siap meluluhlantakkan gedung Madrasah.

Selain itu, yang lebih memprihatinkan lagi adalah keberadaan guru di sekolah ini yang ternyata, sangat tidak memadai, yakni hanya 2 orang guru yang berstatus ASN dan beberaa orang guru honor yang tidak maksimal dan jarang masuk, karena tidak mengantongi SK dari Pemerintah Provinsi atau Pemerintah Kabupaten.

Foto Istimewa

Idealnya, menurut Rusmin Panggato, jumlah guru, seharusnya 12 orang termasuk Kepala Sekolah dan lebih idealnya lagi, minimal sebagiannya Guru ASN atau paling tidak guru honor, tapi mereka mengantongi SK, sehingga lebih bersemangat dan bergairah lagi dalam kegiatan belajar-mengajar.

Tidak sebatas itu saja, selama 12 tahun keberadaannya, Madrasah Aliyah swasta satu-satunya di Gorontalo Utara ini, terus diperhadapkan oleh keterbatasan fasilitas penunjang pendidikan, seperti perpustakaan, Musholla, perlengkapan laboratorium dan fasilitas penunjang lainnya.

Untuk Musholla, selama ini peserta didik terpaksa harus menggunakan ruang laboratorium untuk Sholat berjamaah yang dilakukan secara bergantian.

Ruang laboratorium ini sekaligus juga masih difungsikan sebagai asrama putra untuk beberapa orang siswa, karena belum dilengkapi oleh perangkat komputer atau Labtop dan fasilitas penunjang lainnya.

Akibatnya, setiap tahun saat Ujian Kompetensi Madrasah dilaksanakan, pihak Madrasah mau tidak mau harus meminjam sewa Labtop selama ujian berlangsung. Konsekwensinya pihaK Madrasah harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.

Sementara untuk tempat ibadah, meski dalam kondisi keuangan yang sangat terbatas, namun pihak Madrasah sudah mencanangkan pembangunan Mesjid di luar area sekolah yang saat ini sudah ada fondasi bangunannya.

Untuk pembiayaan pembangunan Mesjid ini, Rusmin Panggato mengaku hanya bisa menghimpun dan mengandalkan donasi atau sumbangan dari ummat.

Mesjid ini, tuturnya lagi, kelak tidak hanya diperuntukkan bagi anak didik untuk sholat berjamaah, tapi juga
dapat dimanfaatkan oleh warga sekitar yang selama ini memang kesulitan mengakses mesjid yang jaraknya cukup jauh di jalan rayanya Kwandang di Leboto.

Semoga saja, di tengah hiruk-pikuk dan kemeriahan menyambut HUT Kemerdekaan RI yang ditandai dengan pencanangan pemasangan 10 juta bendera merah putih, diiikuti pula oleh komitmen untuk mencanangkan “sejuta” keberpihakan pada pembangunan pendidikan yang unggul dan berkualitas.

Menggalang semangat nasionalisme melalui gerakan pemasangan 10 juta sangsaka Merah putih berkibar itu penting, tapi jauh lebih penting adalah mengibarkan keberpihakan agar di setiap jengkal tanah di negeri ini, tidak seorang pun anak-anak bangsa yang merintih karena hak-hak mereka untuk mendapatkan layanan pendidikan terabaikan. (Ali Mobiliu)

%d blogger menyukai ini: