Oleh : Fory Armin Naway Guru Besar FIP UNG dan Ketua PGRI Kab. Gorontalo

Pranala.co.id-“Monas” dalam substansi tulisan ini tidak hendak berbicara tentang “Monumen Nasional” yang berada di ibukota Jakarta. Namun Monas dalam konteks tulisan ini lebih merujuk pada “Monumen Akal Sehat”, yakni sangat terkait erat dengan konstruksi pikiran dalam lelaku kehidupan sebagai manifestasi anugrah akal yang disandang oleh setiap orang.

Dalam pengertiannya, Monumen identik dengan sebuah bangunan yang dibuat untuk memperingati seseorang atau peristiwa tertentu yang dianggap penting oleh suatu kelompok sosial di masyarakat untuk mengingatkan setiap orang terhadap suatu kejadian atau peristiwa penting yang mengandung nilai sejarah. Dalam perkembangannya, monumen juga menjadi salah satu ikon yang menjadi “brand image” dari suatu daerah atau negara yang tidak hanya memberikan kontribusi terhadap keindahan dan daya estitika suatu kawasan, tapi juga menjadi sebuah destinasi wisata yang mengundang minat setiap orang untuk mengunjunginya

Dari pengertian ini sangat jelas, bahwa sejatinya, dalam diri setiap individu terdapat sebuah “monumen akal sehat” (Monas) yang berdiri kokoh dalam konstruksi alam pikiran manusia. Artinya, jika Monumen yang berbentuk bangunan sebagai simbol untuk memperingati dan mengenang peristiwa atau kejadian penting dan bersejarah, maka monumen akal sehat menjadi wahana “mengingatkan” dan mengukuhkan eksistensi kemanusiaan sebagai makhluk mulia yang dianugerahi akal.

Karena sesungguhnya, yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya hanya terletak pada “akal”. Ketika akal tidak lagi berfungsi maka seseorang masuk dalam.kategori “hilang akal” sehingga derajat kemanusiaannya menjadi sangat terpuruk.

Oleh karena itu, setiap individu tidak cukup hanya memiliki akal, tapi juga akal tersebut harus tetap sehat sehingga eksistensi kemanusiaannya tetap terjaga, berdiri kokoh dan tak mudah goyah atau rapuh. Akal dengan demikian, membutuhkan “nutrisi” sebagai asupan agar tetap sehat dan menjadi “pemimpin” dan penuntun ke jalan yang benar.

Apa makanan sehat bagi akal? Dalam perspektif Islam, nutrisi bagi akal agar tetap sehat adalah banyak “mengkonsumsi” bacaan-bacaan yang islami, menuntut ilmu dalam kajian-kajian dan senantiasa berdzikir mengingat sang Khalik. Paling tidak, dengan nutrisi itulah, akal menjadi sehat, berpikir positif dan akal menjadi pemimpin yang benar-benar berdiri di garis yang lurus.

Dari uraian ini menyuguhkan sebuah keyakinan, bahwa tidak hanya organ-organ dalam tubuh yang membutuhkan nutrisi atau asupan makanan yang bergizi, tapi juga akal membutuhkan sajian nutrisi dan asupan makanan berupa “nilai-nilai agama, budaya dan ilmu pengetahuan yang luas sehingga akal tumbuh menjadi sehat, tidak mengidap penyakit “paranoia ekstrim” misalnya dan lainnya.

Akal sehat akan menuntun pada setiap jiwa untuk berpikir positif, jauh dari penyakit hati yang akut, iri, dengki, dendam dan menaruh kebencian pada orang lain. Oleh karena itu dapat disebut, bahwa berbagai peristiwa, kejadian dan fenomena yang mendekonstruksi bangunan kemanusiaan, pada dasarnya dipicu oleh monumen akal sehat yang sangat rapuh akibat kekurangan nutrisi ilmu pengetahuan dan ilmu agama yang sangat tidak memadai lagi.

Lebih spesifik lagi, ciri orang yang tidak lagi memiliki monumen akal sehat, akan cenderung memandang dirinya “lebih baik” dari orang lain, memandang dirinya yang paling benar. Akibatnya ia menjadi angkuh, sombong dan tidak lagi memiliki nurani untuk menerima uluran maaf dan jabatan tangan dari orang lain. Itu artinya, ia sudah melupakan eksistensi Allah SWT sang Maha Pencipta yang Maha Penyayang dan Maha Pengampun. Allah SWT Sang penguasa alam semesta saja mau membuka pintu ampunan bagi hambaNya, mengapa manusia sebagai hamba, justru tidak lagi mau menerima uluran jabat tangan dari orang lain. Jika demikian adanya, maka “Naudzubillahi Minzalik””akal dan hati orang itu sudah keras dan membantu.

Jika dikorelasikan dengan kudrat manusia sebagai makhluk sosial, maka monumen akal sehat menjadi sangat penting menjadi rujukan bagi siapapun. Mengapa? Karena tidak semua yang kita inginkan dan kita kehendaki dari orang lain, tidak selamanya dapat terpenuhi secara ideal. Olehnya, memberi maaf adalah sebuah keniscayaan. Demikian juga, “Setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya”, maka tidak ada jalan lain, kecuali membangun monumen akal sehat dalam kehidupannya. Jika tidak, maka orang itu akan mengidap penyakit ” power syndrom” yang justru akan menggerogoti akal sehat dan kehidupannya semakin terpuruk.

Dari uraian singkat tersebut di atas maka kesimpulannya, adalah, monumen akal sehat merupakan benteng pertahanan bagi siapapun untuk tetap berada pada koridor sebagai individu yang berakal yang senantiasa menjunjung nilai-nilai normatif yang berlaku. Monumen akal sehat adalah wahana penting untuk tetap “eling” tidak gila hormat, tidak menaruh dendam dan kebencian kepada siapapun dan selalu membuka pintu maaf yang elegan kepada siapapun.

Sebagaimana monumen pada umumnya yang selalu menjulang tinggi ke langit, namun ia tetap berpijak di bumi, maka monumen akal sehat, juga sejatinya memiliki karakteristik yang selalu menjulang ke ajaran langit, agar dimensi kemanusiaanya semakin kokoh berpijak pada makhluk bumi. Monumen akal sehat dengan demikian, menuntun setiap orang untuk tetap berada pada dua dimensi secara vertikal dan dimensi horisontal yang pada akhirnya menjadi insan yang dirindukan oleh bumi dan dinaungi oleh langit secara elegan.

Sesungguhnya, jiwa yang kerdil adalah jiwa yang selalu menganggap dirinya yang paling benar dan orang lain yang selalu salah sehingga cenderung angkuh dan sombong. Monumen akal sehat dengan demikian, minimal mencegah setiap orang menjadi “gila” atau kehilangan akal sehat serta sulit menerima kenyataan hidup. Sabar dan syukur adalah solusinya, bukan membenci dan mendendam.(***).

%d blogger menyukai ini: