Penulis Oleh : Uhar Muksin, S.pd M.pd

Pranala.co.id-Meski saat ini, modernisasi dan dinamika kehidupan global telah merambah ke dalam dimensi dan ruang lingkup yang seakan tidak lagi mengenal batas geografis dan kultural, namun nilai-nilai kearifan lokal tetap relevan menjadi rujukan dalam mewujudkan suatu kemajuan yang berkeadilan.

Nilai-nilai kearifan lokal di manapun, sebenarnya memiliki ruang yang bersifat adaptatif yang mampu menyerap budaya dari daerah atau bangsa lain yang selanjutnya akan melahirkan tatanan nilai yang bersifat kolaboratif yang akan terus bertransformasi menjadi sumber kekuatan yang prospektif

Itulah sekilas dan secercah pengantar yang boleh disebut menjadi sumber inspirasi tercetusnya program “Motabi Kambungu”. Yakni sebuah program yang sangat nampak jelas, hendak mewujudkan dan mentransformasikan tatanan nilai yang berwawasan global, diantaranya good governance, pelayanan publik, civil society, hak asasi manusia, penegakkan hukum, akses ekonomi yang berkeadilan dan instrumen kehidupan global lainnya.

Isu-isu global tersebut dapat ditransformasikan ke dalam nilai-nilai kearifan lokal Gorontalo sehingga dapat mewarnai bahkan akan terus membudaya dan mengakar ke dalam tataran pemerintahan dan kemasyarakatan.

Secara terminologi “Motabi Kambungu” merupakan istilah Bahasa Gorontalo yang berarti “Rindu” atau kerinduan yang terkadang sulit untuk dibendung.

Dalam tradisi masyarakat Gorontalo, ketika seseorang tengah dilanda kerinduan atau “Motabi” dengan seseorang atau suatu obyek tertentu, maka pikirannya akan terus terpusat pada yang dirindukannya itu. “Dilemedutu, (Gelisah) Dilamentdulongo,(sulit tidur) dila’opongonga” (tidak ada nafsu makan, molimelo duhelo atau hati berdebar-debar.

Itulah gambaran seseorang Ta tabi-tabi” atau tengah dilanda kerinduan. Hatinya akan lega dan senang, jika apa yang dirindukannya itu akan tergapai.

Secara psikologis orang yang “Motabi” atau “ta tabi-tabi” akan memiliki “daya reflektif” yang sangat kuat untuk mencari akal, mencari jalan, mencari celah, atau istilah kerennya ia akan berkreasi dan berinovasi bahkan siap melakukan apa saja yang penting rasa kerinduannya itu terobati.

Sebab di kalangan masyarakat Gorontalo, terdapat kepercayaan bahwa jika terlalu lama memendam rasa rindu akan berakibat fatal, yakni tubuh akan menjadi kurus-kering dan kerempeng, mudah terserang penyakit atau sakit-sakitan yang dalam bahasa Gorontalo disebut dengan istilah “Mingga-minggalato” yang berasal dari padanan kata ” bolo minggu-minggulo Mato”.

Dalam konteks ini, maka Motabi Kambungu dapat dimaknai sebagai sebuah ide, gagasan dan terobosan yang bersumber dari upaya menggali nilai-nilai kearifan lokal Gorontalo yang kelak diharapkan dapat menjadi spirit yang mampu menggerakkan daya nalar, daya kreasi dan inovasi dari setiap aparatur pemerintahan di semua tingkatan, untuk selalu rindu atau merindukan kampung “Motabi Kambungu”.

Meminjam istilah anak-anak muda, “rindu itu berat”,maka salah satu cara untuk membunuh kerinduan itu adalah, berani bergerak, berbuat dan cepat bertindak, minimal segera menemui, menyalami dan menumpahkan rasa rindu itu dengan penuh “keintiman”.

Itulah sekilas uraian terhadap pemaknaan program “Motabi Kambungu” yang secara aplikatif merupakan sebuah ide, gagasan dan terobosan baru Bupati Thariq Modanggu yang sangat prospektif untuk mendorong semangat, dedikasi dan komitmen aparatur pemerintahan untuk menyapa, menyelami dan mengayomi masyarakat di desa-desa agar bertumbuh, berkembang dan maju.

Melalui pendekatan kearifan lokal “Motabi Kambungu” ini paling tidak diharapkan akan merangsang dan menggugah nurani setiap aparatur untuk senantiasa memiliki mindset dan Paradigma “melayani” bukan dilayani. Dengan Motabi Kambungu maka setiap aparatur akan merasa gelisah dan tidak tenang jika tidak memberikan pelayanan yang maksimal kepada masyarakat.

Melayani, memberdayakan dan komitmen keberpihakan kepada masyarakat di kampung-kampung, merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pelayanan publik sebagai upaya pemenuhan “Hak Asasi Manusia” yang menjadi isu global dan terus diperjuangkan oleh lembaga-lembaga internasional, salah satunya melalui Millenium Development Goals MDGs dan Sustainable Development Goals (SDGs) dalam kerangka menjamin setiap warga negara untuk mendapatkan akses pendidikan yang berkualitas, layanan kesehatan, layanan administrasi kependudukan, layanan perizinan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat yang berkeadilan.

Motabi Kambungu dengan demikian, merupakan program berwawasan global yang berbasis kearifan lokal, dalam kerangka mentransformasikan nilai-nilai budaya secara universal demi meningkatkan harkat dan martabat kemanusiaan guna mewujudkan civil society.

%d blogger menyukai ini: