Oleh : dr.Mas’ud Ruga Idris
Pranala.co.id-Menelusuri waktu membuat saya mendapatkan Dugaan sementara bahwa :
Pertama, Polahi bukanlah suku Pelarian saat zaman Penjajahan Belanda*
Kedua, Polahi adalah jejak Manusia Purba yg menjadi asal muasal penduduk Gorontalo.
Untuk membahasnya, saya menggunakan pendekatan historis, sosiologis, antropologis dan linguistis
PEMBAHASAN
Sebagamana asumsi kita sekarang dan sebagian pakar sejarah Gorontalo bahwa :
Polahi adalah suku Pelarian karena menghindari Pajak .
Mari kita buktikan apakah asumsi ini benar..
HISTORIS
Pertama, Pajak
Aturan pajak atas penghasilan dikenakan kepada pribumi maupun orang non-pribumi yang mendapat penghasilan di Hindia Belanda, sebutan Indonesia kala itu pada awal abad ke-19.
Pajak pendapatan untuk *pribumi* dikenakan atas kegiatan usahanya seperti perdagangan.
*non-pribumi* (Tionghoa dan asing lainnya) dikenakan atas paten usaha bidang industri, pertanian, kerajinan tangan, manufaktur dan sejenisnya.
Masuk ke era pendudukan Inggris, Gubernur Jenderal Raffles (1811-1816) dikenal sistem pemungutan
pajak secara langsung kepada para petani dihitung berdasarkan pendapatan rata-rata petani dalam setahun.
Tarif pengenaan pajak pendapatan adalah 2% dari pendapatan.
Sehingga
Bila Polahi ini memang menghindari Pajak maka mereka sudah pasti memiliki lahan pertanian dan budaya perikananan maupun peternakan yang maju..
Faktanya : Mereka tak memiliki budaya agraris, karena mereka masih hidup berpindah-pindah..
Kedua, Agama Islam
Islam sudah masuk ke Gorontalo sejak tahun 1400-an, ditandai oleh adanya mesjid pertama yaitu Masjid Hunto yang dibangun pada pada tahun 1495 Masehi
Selain sebagai simbol masuknya Islam ke Gorontalo, masjid ini juga menyimpan kisah romantis Raja Gorontalo pada waktu itu yakni Sultan Amai.
Konon, raja berjuluk Raja To Tilayo yang memerintah pada tahun 1472 hingga 1550 ini mendirikan masjid ini sebagai mahar untuk meminang putri impiannya yang bernama Boki Autango dari Kerajaan Palasa di Sulawesi Tengah
Jadi islam sudah ada 300-400-an tahun sebelum Polahi eksodus ke hutan.
Sehingga *mestinya* Suku Polahi sudah beragama Islam sebelum masuk ke hutan..
Faktanya : Polahi tak beragama Islam, bahkan animisme.
Padahal Islam masuk Gorontalo tahun 1400-an
Seharusnya telah meng-islam-kan Suku Polahi saat nenek moyang mereka masih tinggal di Perkampungan penduduk biasa.
SOSIO-ANTROPOLOGIS
Polahi masih tetap berpindah-pindah (nomaden) bahkan tak ada budaya menanam layaknya masyarakat Gorontalo yg modern
Polahi hanya mengharapkan hasil hutan atau bahkan menjadi penjaga tanaman masyarakat lokal..
Memang nenek moyang mereka hidup berpindah pindah, namun karena sekarang kondisi hutan mulai terjamah oleh masyarakat yang memperluas area pertanian maka tidak sedikit mereka (polahi) mengalami akulturasi dan asimilasi dengan masyarakat modern
Sehingga ada sebagian Polahi yang mengenal ilmu membuat rumah sebagai tempat tinggal permanen walaupun masih jauh berbeda dengan rumah dari masyarakat biasa
Kebiasaan primitif yang hingga kini masih terus dipertahankan turunan Polahi adalah kawin dengan sesama saudara. Karena tidak mengenal agama dan pendidikan, anak seorang Polahi bisa kawin dengan ayahnya, ibu bisa kawin dengan anak lelakinya, serta adik kawin dengan kakaknya.
Budaya kawin mereka tak pernah ada, baik terdengar ataupun tertulis dalam cerita rakyat pada zaman kerajaan di Gorontalo zaman dulu sebelum datangnya Belanda menjajah Nusantara.
Faktanya : Polahi tak berbudaya Gorontalo yang Islami
LINGUISTIS
Banyak bahasa Gorontalo yang mengalami perubahan makna setelah melalui proses pengucapan, sehingga ada yang disederhanakan seperti asal usul kata Gorontalo mis : Hulontalangi, Huta Langi-Langi dll.
Contoh lain yg disederhanakan
Hu’idu = hu’u hu’u i’idu
Dudangata = Dungu-dungu Danga-danga- A’ato
Nah mungkin saja
Asal kata Polahi :
adalah cara mengajak kepada saudara-saudara kita yang tinggal di hutan pegunungan yang masih hidup nomaden untuk turun yaitu dengan menggunakan kata ajakan yaitu :
“POLAHEYI”
Iya Polaheyi..!!!
yang artinya adalah “Turunlah… ”
Nah..
Bisa saja kata Polaheyi telah mengalami *evolusi kata* dalam proses pengucapan menjadi Polahi yg kita terjemahkan = Yang lari.
DUGAAN SEMENTARA.
Pertama :
Berdasarkan
Historis, Sosio-Antropologis, tak ada yang mendukung BAHWA Polahi itu adalah masyarakat Pelarian dari Perkampungan menuju Hutan dan Pegunungan..
Kedua :
Polahi adalah jejak manusia Purba cikal bakal penduduk Gorontalo .
Ini didasari pada sejarah Sejarah Nusantara diawali dengan manusia Proto Melayu.
Proto Melayu yang mendiami Nusantara terus bergerak secara nomaden membentuk suku kecil-kecil di wilayah berbeda.
Beranjak dari Sumatera, ras ini ada yang tiba ke Sulawesi bagian Utara dan Kalimantan.
Dalam perkembangannya, ras ini menjadi nenek moyang suku Dayak, Toraja, Batak, serta beberapa suku lain di Nusantara.
Bila awal kita meyakini bahwa Polahi adalah yang lari dari kampung menuju hutan tak bisa dibuktikan..
Patut diduga secara linguistik asal mula kata Polahi adalah “Polaheyi” atau turunlah
Iya, turunlah untuk meninggalkan tata cara hidup tradisional (nomaden) menuju ke tata cara hidup bermasyarakat yang modern..
Artinya kitalah yang Polahi sesungguhnya, bukan mereka yang hidup di Hutan sekarang..
Oh iya, ini hanya dugaan sementara..
Sehingga Terbuka peluang untuk meneliti kembali jejak Suku Polahi dengan menggunakan pendekatan ilmiah berbasis historis, sosiologis dan antropologis bahkan linguistis.
_Toduwolo.._
Referensi :
Sejarah asal muasal penduduk di Nusantara:
https://insanpelajar.com/proto-melayu-dan-deutro-melayu/
Sejarah Pajak di Nusantara
https://www.pajak.go.id/artikel/menengok-sejarah-perpajakan-di-indonesia-bagian-pertama
