Pranala.co.id – Sejumlah grup whatsapp dan jejaring media sosial ramai dengan ucapan doa keselamatan untuk Gubernur Gorontalo Rusli Habibie, dan istrinya Idah Syahidah Rusli Habibie, pada akhir Desember 2021 yang lalu.

Padahal keduanya bukan sedang berulang tahun, justru ketika itu adalah masa liburan Natal dan Tahun Baru. Liburan mereka memang tidak biasa.

Doa keselamatan itu ramai disampaikan warga karena ternyata mobil yang digunakan mereka mengalami kecalakaan, bukan di jalan raya yang beraspal mulus, namun di jalan kampung yang tak pernah tersentuh aspal. Rusli dan Idah ketika itu hendak menemui warga di sejumlah desa, yang ada di Kecamatan Paguyaman Pantai, Kabupaten Boalemo. Mereka membawa sejumlah paket bantuan.

Wilayah ini memang terkenal jauh dan akses yang sangat tidak layak bagi mobil mewah untuk melintas. Mobil mewah milik pejabat, jarang bahkan mungkin tidak pernah melintas di lokasi itu. Saat itu, mereka sengaja menggunakan Toyota Landcruiser hitam, bukan plat merah milik pemerintah, tapi mobil pribadi mereka sendiri.

Sepertinya, mobil ini memang sengaja disiapkan untuk medan-medan berat seperti itu. Di mobil, hanya ada mereka berdua, Idah Syahidah yang mengemudikan sendiri.

Syukurnya, kecelakaan itu masuk ketegori ringan. Perlengkapan keselamatan yang memang sudah disiapkan matang, membuat keduanya sama sekali tidak mengalami luka, dan tidak mengganggu kesehatan keduanya.

Kecuali mobil, yang mengalami kerusakan dibeberapa bagian. Rusli dan Idah Syahidah memang senang masuk keluar kampung-kampung, mereka sering memanfaatkan masa libur atau akhir pekan untuk ke dusun-dusun yang jarang diikunjungi pejabat.

Mereka bukan hanya menemui warga, dan menyerahkan bantuan, tapi menyerap aspirasi, untuk diperjuangkan, kemudian direalisasikan.

Idah Syahidah, pensiunan pegawai negeri ini memang terbilang pemberani, tepatnya nekat. Karena bukan sekali ia membawa mobil sendiri untuk tembus ke pelosok-pelosok di Gorontalo.
Jika akses tak mungkin dilewati mobil, ia menggunakan ojek atau menumpang di motor milik warga, jika tak mungkin lagi dilintasi kenderaan, Idah memilih berjalan kaki berkilo-kilo meter.

Jika dilihat latar belakangnya, itu tidak mungkin dilakukan seorang perempuan penyandang status istri Gubernur, yang kini pun menyandang status sebagai orang terhormat, Anggota DPR RI.

Hidup mewah, status sosial tinggi, pelayanan dengan mudah didapatkan, perintahnya sangat direspon, bisa saja digunakanya.

Cukup di ruang ber-ac, dan perintah sana-sini, juga bisa. Semua pasti beres.Atau kalau pun berkunjung karena kewajiban menunaikan reses sebagai anggota dewan, cukuplah sampai di desa-desa yang mudah dijangkau, yang mudah dilalui mobil mewah, yang tidak membuat kaki dan tangan kotor, yang tidak membuat keringat berkucur deras, yang tidak membuat pegal-pegal.

Tapi sama sekali itu tidak digunakan. Ia tidak terbiasa bekerja di belakang meja, apalagi sekadar menerima laporan. Sama persis seperti gaya Rusli Habibie, suaminya.

Idah memilih menghidupkan kenderaanya sendiri, menemui komunitas warga, kelompok-kelompok tani, tokoh masyarakat, pegawai negeri, pemuda, perempuan, anak-anak semua dirangkul, diberdayakan, diberi solusi, dan didngar aspirasi. Didengar apa yang menjadi harapan, dan kemudian diperjuangkan sesuai kewenangan dan tanggungjawabnya.

Misalnya, ketika Idah mewujudkan impian warga Dusun Waolo, Desa Molotabu, Kecamatan Kabila Bone, Bone Bolango. Warga disitu berharap adanya masjid di dusun mereka.

Ibu Idah Syaidah Rusli Habibie Anggota DPR-RI Mengikuti Jalan Yang Rusak

Dusun ini sangat jauh dari pusat desa, untuk menuju Waolo hanya boleh berjalan kaki, menyeberang sungai, naik turun bukit, dengan jarak tempuh berjam-jam. Bayangkan, untuk salat jumat saja, warga disutu harus bolak-balik ke masjid yang ada di pusat desa, jaraknya sangat jauh.

Idah berkunjung ke tempat itu, jauh sebelum ia dipercaya rakyat sebagai anggota DPR RI. Ibu dari Alham Prasogo Habibie ini, membawa tim Pramuka. Kebetulan, Idah merupakan kader Pramuka dan kini sebagai Ketua Kwarda Pramuka Gorontalo.

Ia mendengar langsung harapan warga di
dusun Waolo itu, kemudian mewujudkanya lewat program Pramuka Peduli. Kini, telah berdiri masjid di lokasi itu. Warga pun terbantu, untuk urusan menunaikan ibadah, mereka tak perlu jauh-jauh.

Kini setelah terpilih sebagai anggota DPR RI, keluar masuk pelosok justru lebih rutin
dilakukanya. Idah menjadi politisi yang menepis tudingan ‘jika jadi, lupa’ atau ‘saat kampanye buka kaca, begitu terpilih tutup mata’.

Justeru yang terjadi adalah sebaliknya, jika diamati dari postingan-postingan yang ada pada akun media sosialnya, Idah jarang berada di Jakarta. Ke Jakarta, jika ada sidang atau rapat penting di Senayan.

Ia paling sering di Gorontalo, menemui
rakyat, dan menyerap aspirasi setiap saat. Sangat sedikit foto-foto kegiatanya di ruangan ber-ac, yang ada, ia paling banyak bersama masyarakat, termasuk di dusun-dusun, di pelosok Gorontalo.

Ia menemui warga dengan banyak cara, bukan nanti dengan naik mobil mewah lengkap dengan sirene ngiung-ngiung.

Bermotor, bersepeda, jalan kaki juga jadi.
Salah satunya seperti ini telihat saat Idah menemui masyarakat di Dusun Bondula, Desa Bondula, Kecamatan Asparaga, Kabupaten Gorontalo, pada 31 Desember 2021 baru-baru ini.

Jelang pergantian tahun itu, Idah memilih ke dusun paling jauh tersebut untuk bersilaturahmi dengan warga, memberi bantuan, dan menyerap aspirasi. Bukan mudah bisa ke Dusun Bondula, tak ada akses jalan mobil yang bisa dilalui. Idah datang dengan menumpang sepeda motor.

Ibu Idah Syaidah Rusli Habibie Anggota DPR-RI Melewati Medan Jalan Yang Susah Diakses

Sepeda motor yang ditumpanginya juga tidak biasa. Full modifikasi yang memang dirancang khusus untuk medan jalan yang bukan aspal. Menelintasi jalan setapak, melawati hutan, menyeberangi sungai,
yang kondisinya harusnya tidak aman untuk seorang pejabat seperti Idah Syahidah. Sebab, resiko jatuh dari motor sangat mungkin terjadi.

Semua itu diabaikan, demi bertemu dengan ratusan warga yang ada di dusun Bondala. Ini memang menjadi kesempatan bagi warga untuk menyampaikan keinginan mereka. Hasilnya pun, Idah membawa pulang ‘ole-ole’ aspirasi yang berantai. Tentunya akses jalan ikut disuarakan, listrik dan jaringan internet juga diharapkan bisa mereka nikmati, dan bangunan sekolah dasar juga turut diaspirasikan.

Warga begitu antuias, ada pejabat publik dari Senayan, yang rela jauh-jauh datang dengan menempuh medan yang penuh risiko untuk menyerap aspirasi dari dusun mereka.

Idah melakukan hal-hal yang tidak biasa, ia keluar ‘zona nyaman’ dan bahkan menantang, hanya untuk merealisasikan apa yang diinginkan masyarakat. Idah, perempuan yang lahir di Solo ini membuktikan, tak harus asli orang Gorontalo yang bisa berbakti dan mengabdi untuk daerah ini.

Ia teramat cinta dengan daerah berfalsafah adat bersendi sara, sara bersendi kitabullah ini, kecintaanya itu direalisasikan dengan mengabdi sepenuh hati untuk Gorontalo.

Tak pandang warna, golongan, status sosial, derajat, pejabat, rakyat jelata, di kota, di desa, di dusun, semua ia rangkul untuk Gorontalo terus maju. Salam hormat Bu Idah, gass full.

Editor : Mira

Pewarta : Agung Nugraha

%d blogger menyukai ini: