Pranala.co.id-Jika mencermati model,gaya dan konsep kepemimpinan Bupati Prof.Nelson selama ini di Kab. Gorontalo dari tahun 2016, sangat nampak jelas terlihat, bahwa terdapat cita-cita besar seorang Bupati Prof. Nelson untuk melakukan perubahan paradigma kepemimpinan dan pemerintahan dari kultus personal-kelembagaan ke kultur egalitarian- pemberdayaan.

Hal itu sejalan dengan fungsi kepemimpinan dalam pemerintahan yang mendefinisikan, bahwa kepemimpinan sebagai alat kekuasaan untuk mengajak, mempengaruhi dan menggerakkan orang lain untuk melakukan sesuatu demi mencapai tujuan yang ditetapkan.

Semangat Bupati Prof. Nelson mengaktualisasikan fungsi kepemimpinan pada ranah yang semestinya tersebut, paling tidak telah dan akan membawa perubahan baru yang prospektif, diantaranya melahirkan iklim pemerintahan yang responsif, yakni pemerintahan yang mampu merespon berbagai ide dan gagasan baru yang dipandang memiliki dampak signifikan terhadap kemajuan di tengah masyarakat yang dipimpinnya.

Sebagai seorang pemimpin yang berlatarbelakang akademisi, Bupati Prof. Nelson selama ini, sangat nampak tidak ingin terpaku pada ranah teoritis dan tidak ingin pula terjebak pada rutinitas kepeminpinan pemerintahan yang menonton. Melainkan ingin menghadirkan sisi lain yang berbeda untuk menyentuh dan mengurai esensi kepemimpinan pemerintahan secara substantif. Salah satunya memanifestaikan konsep kepemimpinan yang berbasis kolaboratif dan partisipatif.

Paradigma kepemimpinan berbasis kolaboratif dan partisipatif tersebut, tidak hanya penting dan relevan di tengah keterbatasan anggaran dan sumber daya untuk membangun atau memajukan daerah, tapi juga menjadi sebuah alternatif untuk melirik, mengajak dan menggalang kekuatan lain atau sumber-sumber lain untuk berkolaborasi membangun dan memajukan daerah serta memberdayakan masyarakat.

Artinya, Bupati Prof. Nelson hendak memberikan pesan kepada masyarakat dan kepada aparatur pemerintahan yang dipimpinnya, bahwa saat ini dan ke depan “mengandalkan dana APBD” untuk membangun, memajukan dan mensejahterakan masyarakat, tidaklah cukup memadai, melainkan harus ada terobosan baru, diantaranya bagaimana menggalang kolaborasi, partisipasi dan keterlibatan elemen lain untuk mengembangkan dan memberdayakan sumber daya yang ada, khususnya di Kab. Gorontalo.

Itulah sebabnya, Bupati Prof. Nelson selama ini terus berusaha “menjemput bola’ melakukan lobi-lobi dan pendekatan dengan berbagai elemen, baik di tingkat lokal, regional, nasional bahkan internasional, salah satunya adalah untuk menggalang komitmen kolaboratif dan partisipatif, terutama dari mereka yang memiliki potensi untuk memberikan penguatan terhadap keberhasilan program pembangunan dan kemajuan di Kab. Gorontalo

Melalui kiprahnya sebagai Bupati, Prof.Nelson melakukan lobi di Kementerian, melalui organisasi HKTI, Dewan Masjid Indonesia, Asosiasi penghasil Kelapa (KOPEK) dan berbagai organisasi lainnya, Prof. Nelson secara maraton terus berusaha, bagaimana mengajak siapapun yang potensial untuk berkolaborasi dan berpartisipasi dalam proses pembangunan, khususnya di Kab. Gorontalo

Tidak heran pula jika di era pemerintahan Bupati Nelson, Kab. Gorontalo termasuk daerah di Provinsi Gorontalo yang memiliki geliat pembangunan yang sungguh dinamis.Salah satu indikatornya dapat dilihat dari trend penngkatan investasi yang meningkat drastis dibanding tahun 2016 yang hanya pada kisaran Rp.150 milyar lebih meningkat menjadi 3,6 trilyun pada 2020. Belum lagi indeks partisipasi masyarakat, ormas, organisasi kepemudaan, organisasi cendekiawan perguruan tinggi dan organisasi serta institusi pemerintah dan non pemerintah yang telah memainkan peran penting bagi daerah ini.

Masih banyak lagi indikator-indikator yang sebenarnya dapat dijadikan rujukan, bahwa untuk membangun dan memajukan daerah, tidak cukup hanya mengandalkan dana APBD, melainkan ke depan sangat penting untuk menghadirkan terobosan-terobosan baru, inovasi dan kreatifitas yang berbasis kolaboratif dan partisipatif, sebagaimana yang telah digagas dan diaktualisasikan oleh Bupati Prof. Nelson Pomalingo di Kab. Gorontalo.

Tidak berlebihan pula, jika disebut bahwa Kab. Gorontalo saat ini layak menjadi rujukan dan menjadi tempat belajar bagi daerah lain, tentang bagaimana mengukuhkan eksistensi kepemimpinan yang elegan dengan paradigma baru berbasis kolaboratif dan partisipatif (Ali Mobiliu)

%d blogger menyukai ini: